Cerpen Lintang Ismaya: Matinya Sang Pelancong

Cerpen Lintang Ismaya | Ruangatas.com

Apa yang harus aku tulis tentang kota ini? Ya, apanya yang harus aku tuliskan? Tegasnya, mayor yang ada dalam hilir-mudik di jantung kota ini hanyalah kaum pelancong. Sangatlah wajar jika tak ada sapa yang hangat selain segenap pasang mata menyimpan anak panah yang siap untuk di lepaskan. Busur-busurnya adalah gerak tubuhnya itu sendiri. Oh, adakah ini yang bernama absurd atau surealis itukah? Entahlah. Terang dan jelas, di kota ini; segala sesuatunya penuh dengan waspada. Bukan berarti tak ada nyaman dalam tualang. Tidak dan tak!

Bacaan Lainnya

Di sini, di bangku kayu yang lapuk oleh tangga usia, rayap Izrail di rambut umur sesekali menunjukkan sosoknya. Ada takut. Ada tangis. Ada tawa. Ada cemas. Ada bimbang. Ada bahagia. Namun kesemuanya tak menanamkan rasa nan pasti untuk dipanen dalam hikmah. Sebab hikmah akan terasa nyata adanya paska alur yang sudah kita lakoni terasa benar dalam debar yang bergemuruh di kedalaman sumber. Ya, sebagaimana saban kali aku mengenangmu, disamping berdebar, hati ini berbunga-bunga selalu, apakah ini yang dinamakan riba itu? Lupakan.

Ya, meski debar di sebalik dadaku masih tetap utuh milikmu, tetapi aku tidak tahu keberadaan dirimu kini; engkau entah ada di mana? Pada jalan-jalan yang membawaku ke pusat rindu, tak ada lagi peta yang menentu. Selain ragam ramu yang jadi kutuk dalam mabuk. Ya, di kota sejuta pelancong ini, kegembiraan itu bagiku, hanyalah bagian dari kenangan yang tak pernah bisa membusuk dihumuskan waktu. Barangkali sebabnya adalah kenangan itu bukanlah guguran daun yang digunting angin purba. Mungkin lebih tepatnya kenangan itu seperti derap langkah kuda yang menarik andong dan para penumpangnya, yang kian mengekalkan ingatanku pada lepas tawamu di itu waktu. Hingga seluruh gigimu nampak sudah, seperti seringainya kuda yang tengah meringkik dimabuk kasmaran. Ah, bukan juga!

Terang dan jelas: Sehelai rambutmu yang jatuh di itu waktu, bermuatan gelisah. Jatuhnya tepat di paha kiriku. Di itu malam, di bawah pohon asem jawa, depan Gedoeng Merah, segala rasa terdedah sudah. Detik yang mendorong tirai kelam, kita berjalan menyusuri pekatnya, meski tak selikat dedak kopi kaki lima. Namun aku tanpamu bak pahit kopi tanpa gula. Benarkah? Terangnya, kepastian itu hanya satu; aku kembali ke kota ini bukan untuk merunut tapak tilas; jejak silam kau dan aku, meski tak bisa dipungkiri, bahwa rindu ini masih seperti yang dulu: tetap milikmu yang satu. Iya gitu?

Sungguh, walau aku tak tahu kini engkau entah berada di mana; adakah bahagia? Oh, adakah sudah tidur tenang di kedalaman tanah, barangkali? Haduh, tidak dan tak, bukan maksudku mendoakan dirimu untuk cepat kembali padaNya. Toh kesunyataanya di itu waktu kita dipertemukan dengan sejarah yang sama; sekadar menolak perjodohan. Ya, sebelum juang kita melayu, kau dan aku terlalu masif dalam pemberontakan, meski pada akhirnya tak ada yang diuntungkan. Malah yang ada itu—mengapa harus dirimu yang mampu mengunggis hatiku? Mengapa bukan Marilyn Monroe saja, biar keren sekaligus beken sekalian?

Ah, mengulang-ulang; mendaur bahasa rasa yang merupakan bagian dari kegembiraan itu takkan pernah bisa usai dan selesai, seperti-halnya sebuah buku pelajaran yang malas untuk dibaca, sehingga tak pernah ada seorang siswa bahkan gurunya pun yang tamat memahaminya. Ups, rasanya sudah terlalu jauh ini pengembaraan khayalku kali ini, hingga bisa dikata murka akal. Ya, murka akal itu tak ubahnya laku iblis yang ingin menjauhkan iman kita dari Tuhan sejauh mungkin, yang tanpa disadari dilakonkan oleh diri kita sendiri secara perlahan-lahan atas bisikannya. Ya, sebab iblis melakukannya dengan cara yang tidak frontal, tapi dengan gangguan yang begitu halus dan lembutnya, bak sentuhan tanganmu di itu waktu; mulai dari perubahan fokus kecil yang tampaknya tidak berbahaya dalam pandangan akal.

Namun, seiring berjalannya waktu, jarak yang sangat jauh akan tercipta. Iblis akan memulainya dengan menghancurkan intisari dari agama sebagai ajaran utama dalam pedoman hidup. Dalam pandangan kita, iblis akan mengubahnya menjadi alat kontrol. Sehingga kemunafikan dan perpecahan akan membuat kita terobsesi dengan segenap gemerlapnya kehidupan dunia ini. Seterusnya iblis akan begitu mudahnya membesarkan ambisi dalam ragam keinginan kita, dengan tanpa merubah status kita sebagai umat yang sudah beragama. Ya, letak kepintarannya itu di sini, bahwa iblis tidak pernah menyuruh kita untuk meninggalkan keyakinan yang kita pegang selama ini, tetapi dengan strateginya yang membuat kita terlalu sibuk memikirkan ambisi dalam ragam bujuk keinginan. Selayaknya laku dirimu yang begitu telaten menjengkali peta tubuhku dengan napas beringas, tapi aku tidak merasa ada dalam kalang bahaya, melainkan yang dirasa hanya nyaman bertiam sumringah.

Seperti itulah adanya, sampai akhirnya iblis akan mengisi waktu kita dengan bisikan-bisikan yang tak akan berhenti dengan tak lupa mengikuti arus perkembangan jaman. Kita akan disibukannya dengan menggulir media sosial, misalkan. Ya, selalu yang dipikirkan tentang hiburan; menghibur diri tanpa henti dengan alasan mengusir segenap kepenatan yang berkecamuk di kedalaman rasa. Sampai pada akhirnya, kita akan disibukan dengan banyaknya mengkonsumsi ragam asupan ilmu, tapi tanpa disibukan untuk memikirkan maksud dan tujuannya asupan itu arahnya ke mana. Namun anehnya, ketika kita kehilangan semua hal itu akan menjadi tidak merasa nyaman lagi dalam menjalankan sisa hidup. Aneh bukan? Sedikit demi sedikit tak terasa bahwa frustasi sudah merajai pribadi, hingga refleksi diri terasa mustahil. Pada akhirnya, iblis akan menjadikan kepuasan instan sebagai tujuan utama kita. Iblis akan membuat dosa terasa seperti ekspresi diri. Sebagaimana laku kita yang berontak dari zona perjodohan.

Dan kebebasan itu sesuatu yang bisa dibanggakan. Iblis akan membisikan dengan lembut pada kita bahwa ketaatan kepada Tuhan sebagai penindasan, dan pemberontakan itu sebagai solusi dari segenap pembebasan, sehingga kita menjadi manusia yang terbebas dari firman Tuhan. Hal itu bisa terjadi, sebab Iblis akan membuat kita berpikir, bahwa kita terlalu pintar untuk tunduk pada bimbingan ilahi. Pada akhirnya iblis akan membuat penyembahan padaNya terasa seperti beban, bukan lagi tempat berlindung. Tindakan penyembahan tampak ketinggalan zaman. Dan yang terpenting, iblis akan memastikan kita tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Karena tipu daya terbaiknya bukanlah membuat kita menolak Tuhan. Melainkan membuat kita untuk terus melupakanNya dengan begitu pelan dalam perlahan, samapi pasti.

Sebagaimana khayalku tadi yang terus beranak-pinak perihal sekadar memutar arus kenangan dengan pasti. Padahal, jelasnya itu begini: Tepat di seratus delapan puluh purnama, aku kembali ke kota ini. Semua berubah. Seperti gelisah hatiku yang kesunyataanya itu hanyalah sekadar mengenangmu. Ah, tidak dan tak. Mengapa kenangan kita terlalu amat sangat menyiksaku: Adakah ini buah dari dosa? Adakah ini buah dari cinta? Adakah ini buah dari kutuk? Adakah ini buah dari sengsara? Adakah ini buah dari kesedihan? Adakah ini buah dari derita? Adakah ini buah dari rindu? Ataukah ini yang bernama dikejar-kejar debkolektor itu, hingga detak jantungku berdegup begitu kencang, melebihi tabuhan genderang perang? Entahlah.

Sekali lagi: Terang dan jelas, kita pernah sepakat bahwa siapa yang labuh pati duluan, harus menghembuskan napas bukan di pangkuan yang lain. Dan kita pernah sepakat harus kembali sebelum waktu itu tiba. Oh, adakah ini penanda bahwa engkau akan segera kembali padaku, tapi rasanya hal itu absurd, toh aku sendiri tak tahu keberadaanmu kini ada di mana? Ya, absurd bagiku, tapi tidak dengan Tuhan. Ah, rasanya tak mungkin juga Tuhan berpihak pada kita? Ya, jika pun iya, semestinya kita tak perlu berpisah, iya kan? Ah, jangan-jangan Tuhan itu menyukai lakon surealis ? Ya, bisa jadi demikian. Bisa jadi kita kembali dilahirkan dengan orang tua yang berbeda dan atau ruh kita berganti raga. Kata orang dari negeri bambu itu bernama kehidupan kedua. Ah, tentunya akan ada bibi ketiga belas yang bijaksana, bilamana hal itu terjadi, iya bukan?

Hem, tapi rasanya itu pun tak mungkin juga, bukankah hidup dan kehidupan ini terus berlanjut, bukan mundur. Memangnya parkir, ada mundur segala? Kalau memang demikian adanya; jadi, siapakah yang sesungguhnya masih berdiri dalam sisa-sisa ketentuan, sementara usia kita itu sudah tak muda lagi? Ah, bukankah sudah aku bilang, bahwa aku datang ke kota ini sekadar untuk menjalankan tugas; mencari sebuah permata yang hilang. Bukan untuk mengenang para penyair yang membuatmu mabuk kepayang, seperti engkau yang pernah mewakilkan segenap perasaanmu padaku, kala itu puisi-puisi dari penyair salon, engkau kutip dan tuliskan kembali, laju dikirimkan kepadaku sebagai surat cinta terpanjang yang pernah aku terima dari seorang wanita.

Celakanya lagi hanya dirimu-lah satu yang pernah mengirimiku surat cinta. Dan anehnya lagi, aku mengerti dengan penanda-penanda yang engkau kirimkan itu, yang menjadikannya dua warna kita lebur dalam ketidakberdayaan tubuh yang meluruh sebelum subuh. Memungut sisa sujud dalam remang kelam. Boleh jadi, bahwa kesunyataanya bayang-bayang gelap kita dalam mlambang sari itu diluar lakon yang dituliskan Ki Dalang? Absurd. Absurd! Absurd? Wayang kok melawan dalang, bagaimana ceritanya? Ah, terlalu puitis jika harus diteruskan.

Malam terasa panjang dan dingin. Jalan panjang satu arah membentang lurus, tak ada jeda dalam liuk. Jalan panjang yang mana sayap kanan dan kirinya ditumbuhi pusat peradaban dengan hiruk-pikuk para pelancong yang menghamburkan segala penatnya dengan belanja. Peta jantung kota ini dengan jalannya yang semestinya tak ada dalam benakku. Ah, inilah rahasiaku kini, selagi umur merapat ke liang kubur: diam-diam aku kini mulai jatuh cinta kepadamu: Malioboro, meski engkau dipenuhi ribuan pasang mata yang menyimpan busur panah yang siap menghujani tubuh rentaku; yah, mati deh? Ups! [Li]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *