Di Jalan Cilembang Nomor 114, Kota Tasikmalaya, di sanalah sekolahku berdiri. Lokasinya unik karena berada di kawasan eks Terminal Cilembang. Dulu, mungkin tempat ini berisik oleh suara mesin bus. Sekarang suasananya riuh oleh suara kami, murid-murid. Meski lingkungan di sekitar sekolah terkadang berantakan, di dalam kelas kami, sebuah perubahan keren mulai terjadi.
Aku masuk ke sekolah ini dengan membawa sebuah “luka” kecil dari masa lalu. Saat kelas 6 SD, aku pernah ikut lomba kaligrafi. Aku sudah berlatih seminggu penuh supaya hasilnya sempurna. Tapi, pas hari lomba, keberanianku mendadak menciut. Aku gemetar melihat karya orang lain yang bagus dan begitu rapi. Mereka selesai tepat waktu, sementara aku masih tertinggal jauh.
Hari pengumuman tiba, dan namaku tidak disebut. Aku pulang sambil menangis dan melamun di kamar. Aku merasa payah karena selalu membandingkan diriku dengan orang lain. Rasa takut itu seperti mengurungku dalam kotak gelap. Tapi, pelan-pelan aku sadar kalau aku harus bangkit. Aku mulai berhenti melirik kehebatan orang lain dan fokus pada kemampuanku sendiri.
Musuh Besar Bernama Kata-Kata
Ketakutan itu sempat muncul lagi saat aku kelas 8 SMP. Aku terpilih mewakili sekolah untuk lomba kaligrafi tingkat nasional melalui ekskul PMR. Awalnya, aku benar-benar menolak karena takut gagal lagi.
“Nis, kamu pasti bisa, kok!” bisik teman meyakinkanku. Dengan latihan cuma tiga hari, aku memberanikan diri. Dan keajaiban itu datang! Aku terpilih menjadi Juara 3 Nasional. Aku kaget dan bangga sekali. Ternyata, prestasi terbesar itu bukan soal menang saja, tapi soal keberanian melawan rasa takut di dalam diri sendiri.
Tapi, meski aku bisa menggambar kaligrafi, aku punya musuh besar yang belum kalah. Musuh besar itu bernama rasa malas untuk membaca dan menulis. Bagiku, merangkai kata-kata itu jauh lebih sulit daripada mengayunkan kuas. Di kelas, aku sering kehilangan fokus. Membaca cerita panjang rasanya kayak masuk ke lorong gelap yang nggak ada ujungnya.
“Nis, mabar nggak? Satu game saja mumpung gurunya belum mulai,” bisik temanku dari pojok kelas. Tangannya lincah di bawah meja, matanya fokus ke layar HP. Di kelasku, game memang jauh lebih menarik daripada tumpukan buku paket yang membosankan. Aku pun sama, lebih suka diam atau melamun daripada harus merangkai pendapat sendiri.

Peta Harta Karun di Layar Raksasa
Suatu pagi, suasana kelas terasa beda. Pak Junjun Arifin, guru TIK juga wali kelas kami, berdiri di depan sebuah layar raksasa yang keren banget. Namanya Interactive Flat Panel (IFP). Layar sentuh itu seperti jalan masuk mengenal dunia. Aku melihatnya kayak jendela masa depan yang menggabungkan komputer dan papan tulis jadi satu.
Pak Junjun tidak langsung memberikan tugas. Beliau justru bercerita tentang perjalanan panjang pembuatan Bibliompact. Beliau bercerita bahwa aplikasi ini lahir dari kegelisahan ketika melihat kami yang lebih suka menatap layar game daripada buku. Pak Junjun bekerja keras berbulan-bulan, berdiskusi dengan ahli bahasa untuk memastikan kata-katanya mudah kami pahami, hingga mengajak ahli sastra untuk memilih cerita yang paling cocok. Beliau ingin menciptakan sesuatu yang bukan sekadar tugas, tapi sebuah pemecahan masalah yang bisa menyentuh perasaan kami.
“Anak-anak, Bapak tahu kalian sering bosan dan susah fokus di kelas,” kata Pak Junjun lembut seperti biasanya. Beliau menyentuh layar interaktif itu dan muncul diagram warna-warni yang jernih sekali.
“Bibliompact ini dibuat tidak secara tiba-tiba. Prosesnya panjang banget. Bapak menyebutnya Dimensi mulai dari D1 sampai dengan D5. Maksudnya, inilah langkah-langkah agar kalian berani dan berminat untuk membaca lagi.”
Kemudian beliau menjelaskan soal pilihan cerita rakyat di Tasikmalaya bukan tanpa alasan. Pak Junjun sengaja memilih kisah “Nyimas Medang Kancana”. Cerita ini adalah kearifan Sunda yang hebat. Kisah ini tentang seorang putri yang berani dan bijaksana dalam menjaga kehormatan daerahnya. Kearifan lokal ini merupakan sebuah cara agar kami bangga dengan tanah kelahiran kami sendiri.
Pak Junjun juga bilang, beliau membuat Bibliompact bukan cuma buat kasih tugas. Akan tetapi untuk “menyembuhkan” rasa malas baca kami tadi. Beliau merancangnya bareng ahli bahasa, literasi, psikologi, dan teknologi. Tujuannya, katanya, supaya kami nggak merasa terbebani. Beliau menjelaskan Lima Dimensi (D1-D5) itu sebagai langkah-langkah biar kami berani membaca lagi.
“Franisya, lihat ke depan,” Pak Junjun menunjuk layar besar itu. “Kita mulai dari D1, Kesiapan Belajar. Intinya, kalian harus senang dulu. Nggak boleh terpaksa. Cukup klik link dan kenalan dulu sama ceritanya. D2 sampai D4 akan mengajak kalian masuk ke dalam emosi Nyimas Medang, sampai akhirnya di D5, kalian berani bersuara,” terang Pak Junjun begitu rinci dan sangat mudah dipahami.
Aku terpaku melihat jalan kerja Bibliompact di layar IFP itu. Pak Junjun menjelaskan di bagian D2 tentang Minat Baca supaya HP kami nggak cuma dipakai mabar. Pak Junjun meyakinkan kami kalau HP juga bisa jadi jendela ilmu. Lalu ada D3 dan D4 (Dimensi Emosi), kami diajak untuk “nyambung” dengan perasaan tokoh cerita. Terakhir, D5 (Dampak Nyata), yaitu saat kami akhirnya pede merangkai kata-kata sendiri.
Melihat peta itu di layar interaktif raksasa yang terang, aku merasa seperti sedang berlatih kaligrafi lagi. Ada garis-garis yang harus kuikuti. Perintah Pak Junjun jadi terasa nyata dan gampang dimengerti. Apa yang kulihat di layar besar itu, pas banget dengan apa yang harus kulakukan di HP-ku kemudian.

Kejutan di Balik Klik Terakhir
Lalu, tibalah saatnya aku menyentuh link Bibliompact di mejaku. Aku mulai mengisi tahap demi tahap. Pada D1, aku memulai dengan mengklik bagian cerita itu dan membaca terlebih dahulu. Di D2, aku mengakui perubahan hatiku sendiri, “Dulu malas membaca cerita panjang. Sekarang lebih tertarik karena cara penggunaan yang mudah dan menarik melalui HP.”
Saat masuk ke D3 dan D4, perasaanku mulai larut. Aku menuliskan pengakuanku tentang Nyimas Medang Kancana. Menurutku, “Menarik karena memiliki sifat berani, bijaksana, dan pantang menyerah dalam memperjuangkan rakyat serta menjaga kehormatan daerahnya.” Aku merasa sifat itu berbicara padaku. Jujur, ini membuatku terinspirasi oleh semangat perjuangan dan pengorbanan tokoh dalam cerita.
Tibalah pada tahap D5, keajaiban itu terekam. Aku menuliskan bahwa aku, “Menjadi lebih percaya diri dalam merangkai kata dan semangat untuk terus belajar literasi, terutama mengasah kebiasaan membaca dan menulis.” Pas aku sampai di bagian akhir, tiba-tiba muncul sebuah rangkuman di layarku. Aku sempat terdiam sejenak. Aku membaca catatan-catatanku sendiri yang sudah dikelompokkan oleh sistem Bibliompact. Pak Junjun hebat banget, sih.
“Lho, ini beneran aku yang nulis?” bisikku kaget.
Di layar HP-ku, Bibliompact menunjukkan bahwa aku sudah melewati semua tahapan dengan hasil yang bikin aku bengong. Aku melihat Vibe Check bahasaku yang tertulis “Lancar Berkata-kata” dan “Hati Nyambung”. Saat itulah aku tersadar. Bibliompact bukan cuma aplikasi baca, tapi aplikasi yang membuatku mengenal siapa diriku sebenarnya.
Catatan-catatanku yang awalnya aku pikir cuma jawaban biasa, ternyata bisa dirangkai jadi sebuah tulisan yang keren. Rancangan Bibliompact ini benar-benar jenius karena ia memegang tanganku untuk keluar dari lorong gelap. Aku yang tadinya penuh pikiran negatif, tiba-tiba merasa naik kelas dan punya energi positif untuk bangkit. Kini, aku merasa “sembuh”.
Aku jadi sadar kenapa membaca itu penting. Lewat membaca, aku jadi punya “bahan” untuk bicara. Bibliompact ini benar-benar bagus buatku. Ini serius, karena aplikasi ini tahu bagaimana menghadapi anak remaja sepertiku. Apalagi punya luka masa kecil, yang sering tidak percaya diri, dan hobi mengeluh.
Senyum di Jalan Cilembang
Sore harinya, aku menatap laporan itu sekali lagi dengan bangga. Skor “Berani Mandiri” di layarku bilang, “Aku berhasil mengubah keluhan jadi semangat buat bangkit lagi.” Aku pun tersenyum lebar. Dulu, aku menangis karena kalah lomba. Sekarang, aku tersenyum karena berhasil mengalahkan rasa takutku sendiri.
Aku mengirimkan tugas lebih cepat dari biasanya. Aku nggak mau menunda-nunda lagi. Rasa malas itu seolah hilang diterpa angin dari Jalan Cilembang. Aku menatap ke luar jendela kelas. Di bekas terminal ini, aku justru menemukan dunia baru. Untuk anak seusiaku seperti jalan keluar yang indah. Layar sentuh IFP dan link Bibliompact sudah membukakan pintu yang selama ini kututup rapat.
“Franisya, kamu sudah sembuh,” bisik hati kecilku. Setiap orang punya waktunya masing-masing untuk bangkit. Dan hari ini, lewat kata-kata, aku merasa sinarku mulai seperti matahari. Ternyata, di balik layar HP-ku, ada keberanian yang baru saja lahir.
Sebelum mengenal Bibliompact, pikiranku terasa seperti kamar gelap. Pintunya terkunci karena rasa takut gagal. Setelah melihat lima alur dimensi di layar sentuh raksasa itu, aku merasa ada jendela yang terbuka tiba-tiba. Dari celah-celah jendela, ada sinar yang masuk. Aku pun mulai berani lagi melihat diriku sendiri. Tentu saja dengan cara pandang yang berbeda.
***
Penulis: Franisya Zahra Apriany (Kelas IX-I SMP N 6 Kota Tasikmalaya)





