Nyaris Satu Abad Hari Guru: Sejenak Menikmati Kepulan Cahaya dari Rousseau, Voltaire, Filsuf Muslim, Freire, Illich, dan Mandela

Ilustrasi gambar: Sejenak Menikmati Kepulan Cahaya dari Rousseau, Voltaire, Filsuf Muslim, Freire, Illich, dan Mandela.

Marilah kita duduk tenang, tanpa meja, sambil menyilangkan kaki. Tegakkan kepala sejurus dinding langit magenta di beranda rumah. Hirup wangi teh poci sedalam-dalamnya, dan … faktanya, pendidikan belum juga ajek berdiri di tanah air sendiri. Selain rumpang, juga jiwa-jiwa rapuh terpaksa menjadi ruh realitas sebagai penopang. Berusahalah jujur saja ihwal keadaan yang selemah itu. Rasanya lebih baik mengakui daripada mengatakan kokoh, tetapi meyakininya seketika roboh juga.

Mari kita mulai dari sebuah akhir tragis atau romantis dari kedua sosok pemikir. Dari awal kalimat ini, kita akan memahami bahwa nasib maupun takdir seseorang, barangkali bergantung pada cara berpikir yang mengendap pada otak, berbunyi pada lisan, tersusun rapi pada rangkaian tulisan, atau bahkan berderak pada sikap.

Bacaan Lainnya

Gambaran tersebut terilustrasikan pada dinamika Jean-Jacques Rousseau dengan Voltaire, yang mana keduanya merupakan musuh abadi secara pemikiran. Namun akhirnya, mereka terhubung pada titik temu dan berdampingan di ujung hayat.

Narasi berikutnya dapat terlihat jelas dari sintesis ideologis antara Rousseau (1762) pada karyanya Émile, or On Education yang menyebut bahwa pada dasarnya, semua anak berasal dari tangan Sang Pencipta yang baik; segala sesuatu merosot dan rusak ketika berada di tangan manusia.

Dalam konsep pendidikan negatifnya, Rousseau merekomendasikan agar jangan mengajari apa pun kepada anak-anak sebelum usia 12–15 tahun kecuali yang langsung berguna. Ia menyarankan untuk melindungi anak-anak dari buku, dari masyarakat, dari prasangka. Lebih baik menurutnya, membiarkan anak-anak untuk belajar dari benda-benda dan konsekuensi alami.

Pandangan Rousseau ini lebih mempercayai kesempurnaan alamiah ciptaan. Kejahatan dan kerusakan merupakan kontraksi dari kontaminasi masyarakat terhadap kodrat manusia yang genuine .

Sementara itu, dengan karyanya Candide, Voltaire (1759) menjawab dengan lantang, “Jika ini dunia terbaik yang mungkin, bagaimana dunia yang lebih buruk?”

Namun, Voltaire menyangkal pernyataan Rousseau, “Biarkan anak kecil itu membaca Newton dan Voltaire agar tidak menjadi bodoh seperti orang tuanya,” ujarnya.

Voltaire lebih menyarankan anak-anak untuk membaca, sedangkan Rousseau sebaliknya. Dari sini, kita dapat melihat secara tegas paradoksal keduanya.

Dengan kata lain, Voltaire menolak keras ihwal optimisme terhadap Leibnizian—dunia terbaik yang mungkin. Baginya, dunia itu penuh dengan penderitaan, kekejaman, dan absurditas—dan kita harus menghadapinya dengan mata terbuka.

Namun dari perbedaan besar pencerahan dari keduanya, persamaan mereka yakni menolak optimisme Leibniz (“dunia terbaik yang mungkin”) itu, tetapi dengan cara terbelah semacam diametral yang berlawanan.

Rousseau menolak dengan nostalgia alamiah—karena menurutnya, dunia ini buruk disebabkan oleh manusia yang meninggalkan kesempurnaan alam.

Voltaire juga menolak mentah-mentah dengan sarkasme akal—bahwa dunia ini buruk dan tidak pernah sempurna; terima dan lanjut bekerja saja, katanya.

Dari pemaparan dua pemikiran tersebut menunjukkan, bahwa Rousseau dan Voltaire—meskipun musuh ideologis sepanjang hayat—memiliki titik temu yang tragis sekaligus lucu.

Keduanya sepakat untuk menolak optimisme “dunia terbaik” para Leibniz, namun dengan racikan yang berlawanan total itu—dan ironisnya, keduanya berakhir merekomendasikan kehidupan di ” kebun kecil”.

Sekilas Mendaras History of Islamic Philosophy

Dari ironi Rousseau dan sarkas Voltaire, kita dapat mengulas sekilas sebuah buku yang dieditori Seyyed Hossein Nasr & Oliver Leaman yang diterbitkan oleh Routledge (2001) dari edisi lengkap 2 volume dengan 1211 halaman versi asli.

Hal ini semata-mata untuk mengisi celah-celah kosong spiritualitas dan religiusitas pada penjelasan awal. Setidaknya, kita mendarasnya secara ringkas.

Bagi dunia Islam, filsafat bukanlah kemewahan intelektual, melainkan kebutuhan eksistensial. Ia adalah jalan untuk mengenali hakikat diri, alam, dan Tuhan. Ia adalah cinta akan kebijaksanaan ilahi yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari ilusi menuju realitas, dari keterbatasan menuju Yang Mutlak.

Secara eksplisit, bacaan-bacaan ini semacam seduhan teh panas pada gelas cahaya sebagai pengantar di sebuah teras magenta.

Wallāhu a‘lam bi’l-ṣawāb.

Seringkas bab berikutnya adalah soal saring-menyaring hingga sari pati pemikiran Athena. Di sini, para filsuf Muslim tidak menerima warisan Yunani secara pasif; mereka memilih, menyaring, mengoreksi, dan akhirnya melampauinya. Tanpa fondasi Syriak dan tanpa patronase khalifah Abbasiyah, lahirnya al-Kindī, al-Fārābī, Ibn Sīnā, dan seluruh tradisi falsafah mustahil terjadi.

Kepulan cahaya dari secangkir teh panas di gelas masing-masing, bagaimana rupanya(?)

Sekilas melandasi pembahasan awal dengan filsafat Islam, bahwa urusan didik-mendidik manusia adalah proses yang tidak akan pernah usai. Hingga liang lahat, hingga nyawa berdenyut saat sakratulmaut. Namun, tanpa tenaga ilahiah, akal hanya semacam kompas yang bisa menyesatkan tujuan mutlak sebelum maupun setelah kehidupan ini.

 Merayakan Kontemplasi Pendidikan Satu Abad

Setelah mengeja sebentar Rousseau, Voltaire, dan prolog filsafat Islam, berikutnya tidak perlu terbakar oleh dua pemikir pendidikan yang berjarak satu tahun (1970-1971) penerbitan bukunya! Mereka adalah Paulo Freire dengan bukunya Pedagogy of Oppresed dan buku Deschooling Society karya Ivan Illich, yang populer sebagai pendidik radikal abad ke-20.

Mengapa bara (industrialisasi, kolonisasi, dan institusionalisasi) sekolah? Untuk menjawab pertanyaan tidak literal ini, “Tidak ada yang mendidik orang lain … manusia hanya mendidik

satu sama lain, dimediasi oleh dunia,” sebut Freire (1970, hlm. 86). Pada buku lain, Ivan Illich (1971, hlm. 25) menimpali dengan dakwah, “Sekolah adalah biro iklan yang membuat Anda percaya bahwa Anda membutuhkan masyarakat apa adanya.”

Memang padas dan pedas, gelombang dua radikalis pendidikan ini semacam arus yang menghantam ulu para pemangku, ahli, dan praktisi hari ini. Dalam satu abad ini, fondasi telah dirancang begitu kokoh oleh para pendahulu. Namun, silakan teruskan sendiri faktanya.

Dua radikalis pendidikan ini menulis judul buku masing-masing dengan jarak satu tahun, tetapi visi mereka saling melengkapi. Freire mendedah pendidikan konvensional atau tradisional melindas kesadaran kritis. Sedangkan Illich merobohkan paradigma institusi sekolah yang memonopoli pembelajaran dan menciptakan ketergantungan doktrin. Kedua manifesto ini tidak sekadar relevan—mereka kian mendesak dan mengingatkan keadaan sekarang yang justru memperdalam kolonisasi pendidikan di era digital.

Tuah Perubahan dari Nun Jauh di Afrika

Sebuah pepatah yang lahir dari sebuah wilayah antah berantah di Afrika, bahwa untuk mendidik satu orang anak tidak bergantung pada satu orang guru, tetapi kewajiban mendidik seorang anak itu merupakan tanggung jawab warga dalam satu kampung.

Sejalan dengan Nelson Mandela, bahwa ketajaman jiwa sebuah masyarakat dapat terlihat dari cara mereka memperlakukan anak-anaknya.

Dengan mengingat kondisi anak-anak hari ini yang terlahir, selain bersamaan terlahir dari rahim ibu juga keluar dari gua garba digital. Maka dari itu, tugas orang-orang dewasa seyogyanya dapat menjaga mereka untuk tetap mengasah tubuh, ruh, dan jiwa mereka sebagai pisau tajam agar mereka bisa menerabas, bertahan, dan saling membuka jalan keluar di tengah belantata nasib manusia.

Tidak perlu patah hati, Mandela telah mengingatkan, angkat kepalamu ke arah matahari!

Penulis: Vudu Abdul Rahman

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *