Ngeuh Corak Ngarabisasi: Menjala Kecerdasan dari Balik Gagang Pintu Laboratorium Bahasa Arab

Bubuh Bukhori Muslim, Pengajar bahasa Arab di tingkat sekolah dasar.

Seberapa jauh sebenarnya bahasa Arab dari kehidupan kita?

Sebagai permulaan, izinkan saya untuk fokus ke fenomena nyata bahwa lafal Arab sudah jadi santapan harian. Secara tidak sadar, saya kerap mengatakan “izin”, dan kata itu berasal dari bahasa Arab. Bagi saya, bahasa Arab tidak lagi asing karena saya hidup di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim. Hampir semua orang secara spontan melafalkan bahasa Arab di keseharian tanpa dibebani tuntutan mengetahui makna aslinya. Singkatnya, lafal-lafal Arab sudah menjadi asupan renyah dalam obrolan. Dari penelitian yang saya baca dari Julul dan kawan-kawannya (2020), 1.870 kata terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kelima.

Namun, masyarakat kita sering kali merasa tidak pede berbahasa Arab. Padahal, secara logis, bahasa ini sudah sangat melekat. Di masjid, azan dan ikamah berkumandang, lalu orang langsung “ngeuh” bahwa waktu salat tiba. Kita juga terbiasa mengucapkan “Assalamualaikum” secara lumrah.

Selain itu, ada fenomena unik lainnya. Ketika ada orang marah, orang tua atau teman kita kadang menenangkan secara spontan: “Istigfar, hei, istigfar.” Padahal maknanya adalah “Mintalah ampunan pada Allah”, bukan “Santai, Bro!”. Istigfar itu bukan hanya untuk saat marah, melainkan lafal harian yang indah. Begitu pula saat ada pengumuman kematian di toa masjid dengan, “Innalillahi wainnailaihi rajiun,” masyarakat langsung memahaminya, padahal orang hidup pun sejatinya tetap lillah (milik Allah). Fenomena ini selaras dengan tinjauan dalam filsafat bahasa, bahwa penentuan hakikat makna dari sebuah kata bergantung pada bagaimana masyarakat menggunakannya dalam kondisi keseharian yang hidup, bukan sekadar secara leksikal yang kaku sesuai tertulis dalam kamus.

Ada juga fenomena di rumah. Semisal anak makan lalu tersedak, orang tua spontan bilang, “Bismillah dulu dong.” Saat mendapat hadiah, kita mengucapkan, “Alhamdulillah banget, makasih ya.” Hamdalah pun sudah jadi bumbu obrolan ringan. Bahkan, banyak nama instansi pemerintahan yang berasal dari bahasa Arab, contohnya DPR, MPR, MA, dan MK. Di mana singkatannya menggunakan kata dewan, majelis, dan mahkamah. Bahasa Arab juga banyak termaktub di KBBI. Saya pun baru saja keceplosan bilang termaktub, sebuah contoh perkawinan 2 bahasa: Ter + Maktub (ditulis).

Kalau bahasa Arab sudah sedekat ini, mengapa masih terasa asing di ruang kelas? Apabila kita merenungkannya, fakta ini merupakan wujud nyata dari “partisipasi semesta” yang tidak disadari. Masyarakat kebanyakan, orang tua di rumah, hingga marbot di masjid sejatinya telah bekerja sama membentuk ekosistem multiliteratif yang membumi. Fenomena yang sering terlisankan menyadarkan bahwa bahasa Arab sudah jadi asupan harian kita. Sebagai analogi, kita seperti orang yang sangat akrab dengan rasa masakan, tapi tidak sadar bumbu rahasianya ada di depan mata. Tanpa disadari, kita sudah menggunakan bahasanya tiap detik.

Lalu, bagaimana rasa “ngeuh” itu dibawa masuk ke ruang kelas?

Meracik Pembelajaran Adaptif

Saya ingin hadir sebagai teman yang ingin: Pertama, menunjukkan “perkawinan bahasa” di lisan kita. Saya ingin mengajak anak-anak menyadari kalau “menu” obrolan kami sudah lekat dengan cita rasa bahasa Arab. Dalam kapasitas sebagai guru bahasa Arab di SD, saya ingin menemani proses belajar dengan cara yang renyah, santai, tapi dipahami. Kedua, berbagi rasa “ngeuh“. Kepuasan terbesar saya bukan saat siswa hafal teori, melainkan saat mata mereka berbinar dan mengatakan, “Oh ternyata bahasa Arab itu lebih simpel, ya.” Momen “ngeuh” inilah yang sangat mahal. Ketiga, supaya ibadah tidak hambar. Pemahaman ini semoga membantu kita merasakan momen doa yang benar-benar nyambung ke hati dan nilai-nilainya diamalkan tubuh.

Bukankah setiap anak memiliki pintu memahami bahasa yang berbeda-beda? Perjalanan mengajar di SD Islam Aljamal membuat saya semakin menyadarinya. Ada anak yang lebih mudah belajar lewat bunyi. Ada yang memahami lewat gambar. Ada yang lebih aktif bergerak dan berbicara. Ada pula yang memahami bahasa melalui pengalaman religius yang mereka rasakan sendiri.

Atas kesadaran itulah, panggilan mengajar ini akhirnya membawa saya berlabuh di SD Islam Aljamal. Sekolah ini adalah wadah pendidikan yang unik karena mengawinkan sekolah dasar negeri dan sekolah agama (2 in 1). Peserta didik yang mayoritas orang kota dengan latar belakang beragam sangat membutuhkan asupan keilmuan Islam yang benar, tapi tetap renyah untuk dipahami. Keberagaman inilah yang menuntut saya meracik metode pembelajaran yang adaptif.

Setelah lulus dari pesantren di daerah Condong, Haur Kuning, Sukahideng, dan IAI Cipasung, saya mencoba dunia baru di sini. Awalnya sempat timbul kecewa karena tidak bisa 100% mengajarkan pengetahuan saya pada anak-anak SD. Tapi setelah berproses sekitar 3 tahun, saya belajar mengimbangi kapasitas kognitif anak SD agar proses pembelajaran berjalan menuju satu titik, yaitu “ngeuh“. Pada hari pertama di sekolah, anak-anak menyapa saya tanpa jarak. Tidak terasa, saya sudah 7 tahun mengajar di sini.

Kalau setiap anak punya cara belajar berbeda, bagaimana menemukan pintu masuknya?

Memegang Gagang Pintu Kecerdasan

Dalam keseharian di kelas, saya mulai melihat bahwa bahasa Arab bisa menjadi medium untuk menemukan kecerdasan majemuk peserta didik. Sebagaimana gagasan Howard Gardner tentang multiple intelligences, setiap anak memiliki pintu masuk belajar yang berbeda-beda. Mari kita jelaskan pengajaran bahasa Arab sebagai medium itu. Pasaslnya untuk menemukan kecerdasan majemuk peserta didik (linguistik, verbalistik, ilustratif/visual, bahkan kinestetik), seorang pendidik harus “ngeuh”.

Untuk pertemuan awal kelas 1, saya bertanya: “Apa yang tebersit dalam benak kalian tentang Arab?”

“Unta, Mekah, padang pasir, hidung mancung,” timpal mereka spontan.

Saya kemudian bertanya soal keseharian, “Suara bahasa Arab apa yang sering didengar?” Mereka menjawab antara lain; azan, ikamah, dan salam. Setelah itu, saya membebaskan mereka menggambar hal tersebut. Ada yang menggambar kaligrafi الله أكبر, masjid, unta, hingga wajah pria mancung. Melalui praktik ini, saya memfasilitasi setiap keunikan anak:

  1. Visual (Ilustratif): Memahami bahasa Arab melalui bentuk dan warna.
  2. Verbal: Belajar bahasa melalui interaksi dan obrolan “hidung mancung”.
  3. Auditori: Merespons suara azan atau salam yang akrab di telinga.
  4. Intrapersonal: Menghargai religiusitas mereka yang langsung menjawab “Al-Qur’an”.

Dalam pandangan ilmu pendidikan modern, inilah wujud konkret dari perayaan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Saya membiarkan anak-anak masuk dan memahami sebuah subjek melalui pintunya masing-masing. Sebagai contoh nyata, di materi huruf ب, saya memegang gagang pintu dan meneriakkan بَابٌ (bābun). Anak-anak meneriakkan lafal tersebut dengan senang sambil joget bahagia. Mereka yang memilih menggambar, saya persilakan menggambar pintu dengan tulisan بَ di atasnya. Di sisi lain, beberapa anak lari ke depan memandu temannya memegang pintu sambil melafalkan باب.

Kalau bahasa sudah terasa dekat, apakah belajar masih harus terasa kaku? Di kelas 3, pada materi arah dalam bahasa Arab, seorang anak yang suka menggambar melukiskan burung di atas, bawah, belakang, dan depan pohon, lalu melafalkan bahasa Arabnya. Saya terinspiras, lalu mengajak mereka ke kebon pisang. Pada kesempatan lain, saat saya bersepeda ke sekolah, saya menyebutkan lafal darroojatun. Tujuannya agar mereka “ngeuh” bahwa sepeda itu adalah benda yang saya kendarai. Saya tidak ingin disibukkan dengan pertanyaan harus mencari metode apa(?), melainkan berfokus untuk menjembatani keinginan dan kemampuan mereka yang beragam.

Apa yang paling terasa ketika belajar dimulai dari rasa dekat?

Berbagi Kesadaran Terbiasa dan Terpahami

Dampak nyata yang terasa adalah kedekatan. Saya senang bila guru dan murid saling “ngeuh“. Ada hal lucu, beberapa anak menyebut saya MBG (Mister Bubuh Ganteng). Mereka jadi lebih percaya diri mengucapkan “Assalamualaikum” di mana pun dan sering bertanya, “Kayfa haaluka, Pak?”

Bagi saya, pembelajaran mendalam bukan tentang menambah beban kognitif. Lebih dari itu, saya memegang prinsip bahwa pembelajaran mendalam itu merupakan proses berbagi kesadaran bersama yang membuat kita “ngeuh“. Arah pembelajaran benar-benar terasa nyata; bisa dipegang, diucapkan, didengarkan, dituliskan, dan dinikmati.

Saya membagikan hal ini lewat Instagram @ngarabisasi, yang diawali huruf “nga” untuk memadukan bahasa lokal dan nonlokal. Karena pembelajaran bukan hanya transfer materi, melainkan hadir untuk berbagi kesadaran. Dalam rancang bangun linguistik, pemahaman berbahasa sesungguhnya tidak berlaku lewat hafalan kaidah yang beku, melainkan melalui bentangan alami yang bermakna secara terus-menerus. Bahasa Arab itu asing teksnya, tapi bisa dimulai dari teks yang sering didengar secara harian. Pelafalnya adalah manusia sama seperti kita, yang bertujuan saling berkomunikasi secara ringan tapi nyambung dan dipahami.

Mungkin selama ini bahasa Arab tidak benar-benar jauh? Mungkin selama ini bahasa Arab tidak benar-benar jauh. Ia sudah tumbuh pelan-pelan di lidah, doa, bunyi, dan keseharian kita. Kita saja yang belum sempat menyadarinya. Dan mungkin, pendidikan memang sering dimulai dari satu hal sederhana: seseorang yang bersedia memegang gagang pintu bersama anak-anaknya sampai mereka akhirnya “ngeuh”.

Dan itu adalah titik cerah berbahasa: terbiasa dan terpahami. Pada ujungnya, wujud konkret dari pendidikan bermutu untuk semua tidak melulu ihwal sarana dan prasarana serbamewah. Pendidikan bermutu bermula dari ruang kesadaran yang bisa dimulai dari realitas menuju kelas yang merangkul kecerdasan majemuk siswanya. Selain itu, kehadiran seorang guru dengan kerelaannya diharapkan turun langsung mendampingi anak-anak. Apalagi kalau bukan membersamai mereka dengan memegang gagang pintu untuk saling membuka dan memahami dunianya.

***

Tentang Penulis:

Bubuh Bukhori Muslim, lahir 23 September 1992, adalah seorang pengajar bahasa Arab di tingkat sekolah dasar. Dia juga aktif membimbing ngaji Iqra di rumahnya serta di Masjid Al-Barokah setiap waktu Magrib. Ia menamatkan pendidikan S1 pada Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Institut Agama Islam Cipasung. Di luar aktivitas mengajar, ia juga aktif menulis dan membuat konten catatan pembelajaran sederhana untuk anak-anak di media sosial. Selain itu, ia berusaha terus mengarsip peristiwa-peristiwa silam yang mengendap di ingatan para sepuh desa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *