Ruangatas.com | Menjadi seorang guru bukan hanya sekedar pilihan profesi. Bagi sebagian orang, menjadi seorang guru adalah jalan hidup. Sebuah panggilan yang tak pernah benar-benar usai. Ketika bel pulang sekolah berbunyi. Ia tak berhenti di ruang kelas, tak berhenti saat pintu gerbang sekolah ditutup, bahkan tak berhenti ketika mata sudah lelah memandang lembar demi lembar persiapan pembelajaran.
Mengajar memang merupakan salah satu pekerjaan untuk mencari nafkah seperti hal nya profesi lain. Namun, waktu membuktikan ternyata Ia bisa melangkah jauh lebih dalam. Seolah-olah seluruh kehidupan seorang guru tertambat pada profesi itu, bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi telah menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Kadang kebimbangan muncul diam-diam. Ada ketika seorang guru merenung dan bertanya pada dirinya sendiri,
“Dimana batas antara pekerjaanku dan hidup pribadiku?”
“Kapan aku boleh berhenti memikirkan murid-muridku?”
Jawaban yang didapatkan tak pernah mudah didapat. Di rumah, Ia mencoba menjadi ayah atau ibu yang hadir sepenuhnya. Tetapi pikirannya sering kembali pada kelas yang belum tertata, buku administrasi yang belum selesai dinilai, atau anak didik yang sedang mengalami masalah. Ia mengingat wajah kecil yang dilihatnya setiap hari. Ia memikirkan bagaimana caranya membuat mereka lebih faham, lebih percaya diri dan lebih berani bermimpi.
Ia sering pulang dengan tubuh lelah, namun hati terus bekerja. Pada malam hari, saat waktu istirahat, ia meluangkan waktunya untuk mempersiapkan materi untuk hari esok yang lebih baik, menyusun kegiatan, membuat soal, memikirkan strategi bahkan memikirkan murid yang tampak murung sejak tadi pagi. Dan anehnya meski melelahkan, selalu ada kehangatan yang membuatnya bertahan.
Di saat seperti itu, barulah ia sadar, bahwa menjadi seorang guru berarti merelakan sebagian hidupnya tumbuh di kehidupan orang lain.
Karena bagi seorang guru, setiap murid itu bukan hanya sekedar peserta didik. Mereka adalah titipan masa depan. Setiap anak adalah harapan, tanggungjawab moral, sekaligus bagian dari perjalanan hidupnya.
“Menjadikan mereka berguna bagi kehidupannya.” batinnya sering berkata begitu, itulah tujuannya.
Di balik setiap tugas tambahan, rapat, penilaian, Ia tetap percaya bahwa profesi ini lebih besar dari sekedar nilai angka di slip gaji. Ini adalah dedikasi. Ini adalah pilihan untuk tetap peduli, meski dunia terus berubah dengan cepat. Ini adalah komitmen untuk membangun manusia, bukan hanya mengajar teori.
Ia mungkin tidak punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Ia mungkin sering merasa lelah dan ragu. Tetapi setiap kali melihat murid tersenyum bangga saat akhirnya memahami pelajaran, atau saat murid yang tadinya mengatakan tidak bisa hingga akhirnya mengatakan “aku bisa Pa, Bu!” Dengan mata yang berbinar menunjukkan kemampuannya dengan rasa percaya diri, hatinya kembali utuh.
Dan di sanalah letak kekuatan seorang guru:
Ia terus mengajar, bahkan ketika tidak sedang berdiri di depan kelas.
Ia terus memberi, bahkan ketika tidak diminta.
Ia terus mencintai pekerjaannya, meski kadang terasa berat dengan menghadapi setiap tantangan yang terus bergejolak.
Guru bukan hanya profesi. Guru adalah perjalanan seumur hidup, perjalanan yang mungkin melelahkan, tetapi selalu meninggalkan jejak indah di hati setiap orang yang disentuhnya.
Penulis: Nosa Kemala Jayanti, S.Pd. (Guru SDN Indihiang)





