Roy Julian: Membaca Tubuh Asketik

Ilustrasi Gambar Membaca Tubuh Asketik/Dok. Roy Julian

Kantor Teater – Ruangatas.com | Tubuh asketik adalah tubuh yang secara sadar memisahkan diri dari hasrat duniawi—terutama hasrat seksual—demi tujuan spiritual, moral, atau eksistensial. Ia adalah tubuh yang dibentuk oleh larangan, ditata oleh disiplin, dan dijaga dari kenikmatan yang dianggap bisa mengganggu kesucian atau pencapaian makna hidup yang lebih tinggi. Tubuh pastor, tubuh biksu, tubuh rahib, tubuh suster, tubuh pertapa, tubuh yogi, tubuh sufi, bahkan dalam bentuk ekstrem: tubuh monastik eremit yang memilih menyendiri sepenuhnya; semuanya adalah tubuh-tubuh yang menangguhkan seks demi sesuatu yang lebih besar dari tubuh itu sendiri.

Di dalam Katolik, pastor dan suster mengikat sumpah selibat. Seks dianggap sebagai gangguan terhadap kesetiaan total kepada Tuhan. Dalam Buddhisme, biksu dan biksuni menjalani vinaya yang melarang segala bentuk hubungan seksual. Dalam Hinduisme dan Jainisme, yogi dan sadhu menjalani brahmacharya, pantangan seks yang dimaknai sebagai pengalihan energi dari tubuh menuju kesadaran lebih tinggi. Dalam Islam, para sufi menempuh jalan pembersihan diri melalui zikir dan riyadhah, dan banyak dari mereka memilih hidup tanpa nikah sebagai bentuk keterlepasan dari dunia.
Dalam konteks ini, tubuh asketik adalah tubuh yang disakralkan melalui larangan. Seks tidak hanya dihindari, tapi disubstitusi: dengan doa, meditasi, kesunyian, penderitaan, atau pelayanan. Tubuh ini menjadi ruang spiritual, bukan ruang kenikmatan.

Tubuh ini dilatih bukan untuk kekuatan fisik, tetapi untuk penundukan hasrat. Ia tidak makan berlebihan, tidak menikmati parfum, tidak terlibat dalam percakapan erotik. Seksualitas dianggap sebagai jalan menuju gangguan spiritual, maka tubuh ini mengikatkan dirinya pada selibat, bukan karena tubuhnya tidak punya nafsu, tapi karena ia memilih tidak menuruti. Tubuh asketik adalah tubuh yang terus-menerus berkata tidak pada kenikmatan duniawi.

Tubuh asketik tidak hanya hidup dalam keheningan batin, tetapi juga dalam tatapan publik yang performatif. Ketika pastor mengenakan jubah, atau biksu mencukur rambutnya, tubuh mereka bukan hanya menjalani praktik spiritual, tetapi juga sedang “dilihat” dalam kerangka norma religius—dan karena itu, menampilkan dirinya sebagai tubuh moral. Dalam pengertian ini, performativitas bukan hanya pengulangan gestur larangan, tapi juga respons terhadap tatapan sosial yang mengharapkan kesucian tertentu.

Seperti yang ditunjukkan Judith Butler, identitas dibentuk melalui repetisi yang diatur norma. Namun dalam konteks tubuh asketik, repetisi ini juga bersifat visual dan simbolik: tubuh harus tampak suci, bahkan ketika ia sedang bergumul dalam diam. Tatapan masyarakat, komunitas religius, bahkan Tuhan sebagai entitas metafisik, menjadi bagian dari mekanisme pengawasan yang membuat tubuh asketik terus-menerus tampil “benar”. Maka tubuh asketik bukan hanya tubuh yang menahan, tapi juga tubuh yang mempertunjukkan penahanan itu.

Tubuh ini menjadi representasi tertinggi dari moralitas institusional. Pastor, Kyai dan biksu tidak hanya membawa wacana agama, mereka mewujudkannya dalam tubuh. Tubuh mereka menjadi ikon iman. Ketika seorang kyai memakai gamis dan sorban, atau seorang biksu mencukur habis rambut dan mengenakan jubah oranye, tubuh itu tidak netral. Melalui tampilannya, ia seakan mengumumkan tanpa suara: “aku telah menyerahkan tubuhku untuk sesuatu yang lebih besar dari diriku.”

Namun tubuh ini bukan tanpa kontradiksi. Ia tetap tubuh biologis: tetap memiliki hasrat, tetap mengalami dorongan, tetap punya batasan. Maka tubuh asketik sebenarnya adalah tubuh yang terus-menerus berperang dengan dirinya sendiri. Ia mengatur napas, pikiran, mimpi, bahkan mimpi basah—semuanya diawasi dalam logika kesucian. Di sini, tubuh menjadi arena disiplin dan pengawasan internal. Tubuh asketik bukan hanya ditundukkan dari luar, tetapi ditata oleh kekuasaan yang telah ditanamkan ke dalam kesadaran subjek. (Roy Julian-Pendiri dan Penggerak Kantor Teater)***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *