Refleksi Iduladha: Ketika Qurban Kehilangan Ruh Pembebasannya

Screenshot

Oleh: Pakesit (Terinspirasi dari lukisan karya Zuk)

Hari Raya Iduladha sejatinya bukan sekadar ritual tahunan yang ditandai gema takbir dan penyembelihan hewan qurban. Lebih dari itu, Iduladha merupakan momentum spiritual yang mengajarkan manusia tentang pengorbanan, keikhlasan, dan keberanian membebaskan diri dari “berhala-berhala” modern: kekuasaan, ego, status sosial, hingga kerakusan materi.

Bacaan Lainnya

Namun di tengah realitas sosial hari ini, makna qurban perlahan menghadapi pergeseran. Ketika masyarakat sedang dihimpit tekanan ekonomi, harga kebutuhan pokok terus meningkat, dan kecemasan sosial makin terasa, semangat pengorbanan justru berisiko berubah menjadi panggung pencitraan dan demonstrasi kemewahan.

Padahal, dalam hakikatnya, qurban bukanlah tentang siapa yang paling besar memberi atau siapa yang paling banyak menyembelih hewan ternak. Qurban adalah tentang siapa yang paling ikhlas menundukkan ego dan kepentingan pribadinya demi nilai kemanusiaan dan ketakwaan.

Pemikir Muslim asal Iran, Ali Syariati, pernah memandang ibadah haji dan qurban sebagai simbol revolusi spiritual manusia. Ihram, menurutnya, bukan hanya pakaian putih tanpa jahitan, tetapi lambang dileburnya seluruh atribut sosial manusia di hadapan Tuhan. Tidak ada lagi sekat jabatan, kekayaan, maupun kelas sosial. Semua kembali pada hakikat yang sama: manusia yang lemah di hadapan Sang Pencipta.

Dalam perspektif itu, Iduladha semestinya menjadi ruang pembebasan diri dari kesombongan dan kerakusan duniawi. Qurban tidak seharusnya menjelma menjadi kompetisi filantropi atau seremoni yang dipenuhi nuansa pamer kekuasaan. Sebab ketika pengorbanan dipertontonkan secara berlebihan, ruh spiritualnya perlahan memudar dan berubah menjadi konsumsi citra di ruang publik.

Al-Qur’an telah mengingatkan secara tegas dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa inti qurban bukan terletak pada simbol lahiriah, melainkan pada dimensi batin: ketakwaan, keikhlasan, dan empati sosial.

Tradisi Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan teladan yang sederhana. Qurban beliau tidak dibungkus teatrikal kekuasaan ataupun kemegahan simbolik. Pengorbanan dalam Islam bukanlah distribusi kemewahan, melainkan latihan spiritual agar manusia mampu merasakan penderitaan sesamanya.

Di sinilah relevansi Iduladha dengan kondisi sosial hari ini menjadi begitu penting. Ketika jurang antara elite dan rakyat semakin terasa, Iduladha seharusnya hadir sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas sosial, bukan justru mempertebal jarak psikologis dan simbolik antara penguasa dengan masyarakat.

Kehadiran seorang pemimpin di tengah rakyat pada hari raya, misalnya, bukan sekadar agenda seremonial. Dalam tradisi Islam, itu merupakan simbol kedekatan batin dan kesediaan berbagi rasa dengan masyarakat yang dipimpinnya. Sebab kepemimpinan sejatinya bukan tentang menjaga jarak dari rakyat, melainkan tentang kesediaan hadir bersama mereka dalam suka maupun duka.

Ketika ruang-ruang simbolik keagamaan justru berubah menjadi panggung elitis yang jauh dari denyut kehidupan masyarakat, maka yang terancam bukan hanya sensitivitas sosial, tetapi juga makna terdalam dari ibadah itu sendiri. Kita mungkin berhasil menyembelih ribuan hewan qurban setiap tahun, tetapi belum tentu berhasil “menyembelih” ego, kesombongan, dan nafsu kekuasaan yang bercokol dalam diri.

Tragedi terbesar Iduladha hari ini bukanlah berkurangnya jumlah hewan qurban, melainkan ketika ruh pengorbanan itu sendiri perlahan terasing dari kehidupan sosial kita. Agama akhirnya hanya berhenti sebagai seremoni, kehilangan daya pembebasannya terhadap ketidakadilan dan ketimpangan.

Karena itu, Iduladha seharusnya menjadi ruang perenungan bersama. Bahwa yang paling layak dikorbankan bukan hanya harta benda, tetapi juga egoisme, ketamakan, dan hasrat untuk terus tampil megah di tengah penderitaan sesama.

Pada akhirnya, qurban bukan tentang kemewahan yang dipertontonkan, melainkan tentang kerendahan hati yang dihidupkan. Bukan tentang siapa yang paling besar terlihat memberi, tetapi siapa yang paling tulus menghadirkan empati dan keadilan sosial.

Dan di tengah riuhnya simbol serta pencitraan, barangkali satu sikap yang perlu terus dijaga adalah falsafah sederhana: eling lan waspodo — tetap ingat dan waspada. Ingat pada hakikat ibadah yang sesungguhnya, serta waspada agar nurani kita tidak ikut terbius oleh kemegahan semu yang menjauhkan agama dari nilai kemanusiaannya.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *