Kearifan yang Kekal dari Tutur ti Lembur

Ruangatas.com | Jika rasa ingin tahu ditulis dengan cemerlang, maka buku ini adalah konstelasi yang berisi bintang. Modernisasi menganggap bahwa buku yang bertema kearifan lokal sebuah hal yang tidak relevan lagi, diikuti dengan berbagai kemudahan untuk mengakses ide-ide futuristik membuat narasi dari kecerdasan budaya terkesan mudah dilupakan dan tidak lagi spesial. Namun apakah yang menyebabkan narasi ini muncul?

Akar budaya, struktur dan tradisi leluhur mengajarkan kearifan moral yang tinggi sehingga bagi struktur di zaman modern ini, nyaris dilupakan. Namun, dalam buku Tutur ti Lembur yang ditulis oleh 52 penulis Tasikmalaya justru memperlihatkan kaitan yang erat antara kehidupan sehari-hari masyarakat Tasikmalaya hingga detik ini – opak beca masih menjadi makanan yang tampil dan digemari ketika lebaran tiba, Situ Gede masih menjadi ikon pariwisata yang dijaga kelestariannya dan hingga detik ini masih menjadi tempat sumber pendapatan banyak pedagang dan restoran kecil nan nikmat, atau lebih sederhana, Gunung Sabeulah masih menjadi nama tempat yang entah kenapa, banyak orang masih bertanya, “kenapa dinamai Gunung Sabeulah?”.

Buku ini bahkan diterbitkan pada tahun 2025 oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Tasikmalaya dengan intensi yang baik dan keseriusan tinggi, bukan hanya karena formalitas bahwa kita harus memiliki buku, namun warisan bumi Sunda bisa bernapas kekal dalam tulisan yang nyata. Dengan tebal 475 lembar, buku ini lugas membahas tentang berbagai tema yang menarik. seperti (1) Akar Mitos dan Sejarah, (2) Norma dan Tradisi Sosial, (3) Kearifan Ekonomi dan Kerajinan, dan (4) Seni Pertunjukkan dan Identitas Budaya. Tulisan yang termuat dalam berbagai tema tersebut mengandung banyak sekali makna dan Pelajaran kehidupan yang bisa dipetik.
52 penulis tentu memiliki ciri khas gaya penulisan yang berbeda, bagi yang sudah terbiasa membaca, mungkin buku ini masih sangat mudah untuk dicerna, namun bagi pembaca pemula, buku ini tentu memerlukan waktu untuk dapat dipahami secara psikologis. Bukan karena struktur yang tidak menarik, namun keberagaman sangat memerlukan waktu untuk dilihat keindahannya, termasuk dengan tulisan dalam buku ini.

Ilustrasi di buku ini cukup menarik untuk desain yang sederhana, hal ini mengingatkan pembaca bahwa pada setiap untaian kata dan makna yang ada dalam buku ini merupakan hasil dari keakraban atau kehidupan sehari-hari yang sangat dekat dengan kehidupan orang Tasikmalaya sampai detik ini.

Tasikmalaya tentu luas sekali, maka di dalam buku ini kita akan menemukan berbagai lokasi seperti Cibeureum, Rancabungur, Pasir Jaya, Indihiang, Sukamajukidul, hingga Gunung Batu yang eksistensinya mungkin tidak terduga.

Tutur ti Lembur adalah buku lokal yang mengajarkan bahwa keberagaman bisa datang dari tempat-tempat kecil yang sering terlupakan namun justru penuh akan makna. Seperti dalam kisah Mbah Balung Tunggal di cerita “Nusa: Sungai yang Lahir dari Pelukan Dua Arus” karya Elis Solihati. Dari cerita Mbah Balung, pembaca dapat memahami esensi perubahan besar memang harus datang dari sebuah tantangan yang kita terima dengan tangan terbuka, bukan dengan melawannya sekeras tenaga. Hasil akhirnya, Mbah Balung menerima keadaan bahwa kesaktian semata tidak membawa kedamaian, akan tetapi penerimaan lah yang membawa kita selangkah pada rasa damai itu sendiri.

Namun tentu, buku ini tidak hanya berisi nasihat semata namun juga penuh akan cerita yang familiar dengan kehidupan kita seperti kisah pengalaman mitos atau dikenal juga dengan pamali. Asal usul opak beca, tutug oncom, bahkan es bojong di Tasikmalaya. Cerita tersebut tidak hanya dekat dengan pembaca, namun sangat menghibur dan melegakan saat tahu bahwa penamaan sesuatu memiliki makna-makna tidak terduga. Sehingga, buku ini sangatlah cocok untuk pembaca di segala umur.

Buku ini memang tidak fokus pada satu tema saja. Ini adalah kumpulan cerita rakyat, warisan lokal, pengalaman menarik, dan cerita lucu yang dibalut dengan rekam jejak penulis. Setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing dalam mengutarakan rasa. Dengan itu, kita dapat mengetahui bahwa setiap jengkal paragraf merupakan ungkapan hati dalam mengabadikan memori dan kebijaksanaan lokal. ***

 

Tentang Penulis:
Maulida Resdianasari adalah seorang pegiat isu interseksionalitas di Tasikmalaya yang menempuh pendidikan tinggi di jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Siliwangi. Selain dari itu, Maulida aktif di bidang broadcasting dan merupakan bagian dari Team KeiLove FM Radio Tasikmalaya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *