Padus UPI Tasikmalaya Warnai Refleksi Milangkala ke-24 Kota Tasikmalaya dengan Nuansa Seni Sunda

Tasikmalaya — Ruangatas.com | Malam Refleksi Milangkala Kota Tasikmalaya ke-24 yang berlangsung di Balai Kota Tasikmalaya, Jumat malam (31/10/2025), tersaji hangat dan penuh nilai rasa.

Mengusung tema “Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna, Sampeureun Jaga”, momentum ini menjadi ruang kontemplasi mengenai identitas budaya Tasikmalaya sebagai kota yang tumbuh di atas nilai kearifan Sunda.

Bacaan Lainnya

Salah satu sesi yang menarik perhatian publik ialah penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya. Di bawah arahan Ai Fitriani serta pembinaan Aini Loita, M.Pd., mereka tampil dengan membawakan tiga komposisi khas Sunda, yakni Bubuy Bulan, Degung Cianjuran, dan Hariring Nu Kungsi Nyanding.

Ai menyebut bahwa partisipasi PSM adalah bentuk komitmen mahasiswa dalam merawat budaya daerah. “Partisipasi ini adalah kontribusi nyata anak muda dalam melestarikan nilai seni Sunda,” ujarnya.

Tim Padus UPI Kampus Tasikmalaya dalam Acara Refleksi HUT Kota Tasikmalaya.

PSM UPI juga bersinergi dengan Sanggar Seni Rangga Setra, menghadirkan harmonisasi vokal dan instrumen tradisional yang menjadi penutup berkesan dalam rangkaian Milangkala tahun ini. Suasananya terasa syahdu, estetis, serta menyiratkan pesan bahwa seni tradisi tak berhenti pada masa kini.

Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi dan Wakil Wali Kota Dicky Candra Negara turut Hadir sekaligus memberikan apresiasi atas kontribusi akademisi, mahasiswa, dan komunitas seni yang mendukung keberlangsungan budaya lokal. Pemerintah daerah menilai antusiasme ini sebagai tanda kuat bahwa kultur Sunda masih hidup dalam kesadaran masyarakat.

Para tamu undangan merespons positif penampilan PSM UPI. Kehadiran paduan vokal kampus yang berpadu dengan instrumen tradisional menjadi representasi bahwa tradisi Sunda masih relevan dan dapat dikemas lebih dinamis tanpa meninggalkan filosofi.

Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran Pemerintah Kota Tasikmalaya dengan para pengisi acara. Momen akhir tersebut menjadi simbol bahwa pembangunan budaya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi gerakan bersama akademisi, komunitas, generasi muda, dan masyarakat Tasikmalaya. (Rifki)***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *