Oleh : Robi Delvis
Ruangatas.com | Para guru besar di kampus-kampus Indonesia cukup sering membincangkan Homo Sapiens, salah satu karya Yuval Noah Harari. Di sisi lain, seorang siswa baru SMK pun kerap menyimpan pertanyaan yang bergentayangan di kepalanya tentang kepastian; “Siapakah manusia pertama di muka bumi? Benarkah Adam adalah manusia pertama?” Bagi sebagian orang, pertanyaan ini mungkin dianggap usang. Basi! Namun bagi sebagian lainnya, ini justru pertanyaan yang sangat kritis. Ada pula yang memilih menghindar, takut menabrak dogma agama.
Baik yang menganggapnya basi, yang memandangnya kritis dan segar, maupun yang memilih menghindar, semua hanyalah soal konteks. Disebut basi, karena ia telah lama memperbincangkannya. Terasa segar, karena baru pertama kali memikirkannya. Menghindar, barangkali karena belum pernah mendapat ruang untuk membahasnya. Atau mungkin pernah membahasnya, namun tak menemukan jalan kemajuan.
Berbicara tentang Harari, saya jelas hanya seorang penikmat sekaligus penyimak. Meski buku-bukunya sudah masuk dalam daftar bacaan, hingga kini saya baru sebatas menyimak ulasan-ulasan dari orang lain. Ketika Nexus, salah satu karya Harari, diperbincangkan, tentu saya belum bisa mengajukan komentar langsung atas isi bukunya. Namun, jika konteksnya diperluas, di mana dalam Nexus, Harari mengatakan bahwa di balik segala sesuatu terdapat kisah dan saya memiliki pandangan alternatif. Bagi saya, yang berada di balik segala sesuatu bukan semata kisah, melainkan value atau nilai.
Contoh sederhananya adalah bendera merah putih. Jika ada kain merah diinjak, mungkin tidak ada yang mempermasalahkan. Jika ada kain putih diinjak, lagi-lagi tidak ada yang peduli. Namun ketika kain merah putih diinjak, orang bisa dipenjara. Mengapa? Karena ada keyakinan kolektif dari sekelompok orang, bahkan sebuah bangsa, yang menganggap merah putih sebagai simbol sakral. Di dalamnya melekat value yang perlu dihormati. Mengenai apa sebenarnya nilai di balik merah putih, karya Prof. Moh. Yamin sangat layak untuk dibaca dan direnungkan.
Meski demikian, ada yang mengatakan bahwa value tanpa kisah tidaklah sempurna. Saya sepakat. Value tanpa model, tanpa teladan, juga amat disayangkan, karena akan membuat kita mengalami kebuntuan. Sebagai contoh, kita akan kesulitan menjawab pertanyaan seperti: “Siapa figur yang dianggap representasi komunisme? Kapitalisme? Atheisme?” Saya yakin akan muncul banyak ketidaksepakatan. Namun, apakah semua harus berakhir pada ketidaksepakatan? Belum tentu. Pada titik-titik tertentu, selalu ada kemungkinan untuk menemukan kesepakatan.
Namun, pertanyaannya adalah, di bagian mana kita bisa bersepakat, dan kesepakatan itu dianggap sah? Sebaliknya, di bagian mana kita boleh tidak bersepakat, dan ketidaksepakatan itu juga sah? Sepanjang sejarah, pertanyaan ini sendiri belum pernah disepakati.
Ada kalangan yang meyakini bahwa seluruh kebenaran adalah relatif. Sebagian lainnya berpandangan bahwa kebenaran itu mutlak. Lalu, ada pula yang berpendapat bahwa kebenaran itu ada yang mutlak, dan ada pula yang relatif. Kalangan pertama dan ketiga memastikan diri untuk tidak saling bersepakat. Hanya kalangan kedua yang tegas memposisikan diri bahwa kesepakatan dan ketidaksepakatan itu sama-sama mungkin terjadi dalam batasan yang jelas.
Perihal mana yang benar, pada akhirnya semua akan kembali kepada epistemologi masing-masing. Sebab, perbedaan cara pandang (worldview) antar peradaban menjadi faktor utama. Sesuatu yang dianggap valid oleh satu peradaban, bisa jadi dipandang tidak valid oleh peradaban lainnya. Bahkan, ketika objek dan sumber epistemologinya sama, perbedaan dalam hierarki penafsiran pun bisa memunculkan ketidaksepakatan. Inilah sebab utama mengapa perbedaan sering kali menjadi keniscayaan.
Maka dari itu, dalam memperbincangkan segala sesuatu, saya lebih memilih untuk merujuk pada akar-akarnya. Dengan begitu, saya dapat memahami dan menempatkan lawan bicara saya secara proporsional. Orang boleh saja mengklaim dirinya “bergentayangan” untuk menghindari identitas, namun pada akhirnya, disadari atau tidak, bergentayangan itu sendiri adalah identitasnya. Sebab secara naluriah, identitas atau dalam bahasa lain, brand adalah sesuatu yang mustahil dihindari, sekuat apa pun upaya kita untuk mengelaknya.
Pertanyaan menariknya, apakah identitas itu harus menjadi tembok penghalang dalam berbincang-bincang? Dengan kesadaran bahwa identitas adalah sesuatu yang alamiah, seharusnya tidak. Namun, fakta empiris sering kali berkata sebaliknya, ya! Ketika seseorang teridentifikasi dengan identitas tertentu, ada kalanya sebagian pihak memilih menghindar, sementara sebagian lainnya justru mendekat. Suka atau tidak suka, itu realitas yang sulit dihindari.
Padahal, idealnya dan mungkin inilah yang sehat, identitas seharusnya tidak menjadi penghalang dalam berbicara. Bahkan, dengan identitas yang jelas dan jujur, perbincangan justru bisa berlangsung lebih terbuka dan apa adanya. Saya pribadi merasa, semakin jelas identitas, semakin luas ruang untuk berbincang. Bagaimana dengan Anda? Silakan. Kita tidak harus bersepakat! (RD)***





