Tasikmalaya – Ruangatas.com | Ekstrakurikuler life skill SD Laboratorium UPI Tasikmalaya menggelar kegiatan Pelatihan Stilasi Gambar Dekoratif pada Rabu (20/8/2025). Pelatihan ini menghadirkan Ken Adhisti, seorang pegiat seni sekaligus pelukis yang aktif berkarya di tingkat nasional maupun internasional.
Ken Adhisti sendiri bukan sosok baru di dunia seni rupa. Ia menempuh pendidikan S1 Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya sebagai penerima Beasiswa Bank Indonesia, kemudian melanjutkan studi S2 Magister Seni – Penciptaan Seni Murni di ISI Yogyakarta melalui Beasiswa Pelaku Budaya (BPI Kemendikbudristek). Selain berpameran, ia juga berpengalaman panjang sebagai pendidik seni rupa, mulai dari SD hingga perguruan tinggi, dengan fokus pada kreativitas, praktik studio, dan seni rupa kontemporer.
Dalam sesi pelatihan, Ken membagikan dasar-dasar teknik stilasi, yakni penyederhanaan bentuk dalam seni gambar dekoratif.
“Meskipun sebentar, saya berupaya menyampaikan dasar-dasarnya. Anak-anak sangat antusias. Saya tidak bisa memaksakan kemampuan mereka, karena ada yang berbakat, ada juga yang butuh bimbingan lebih. Yang penting, kalau mereka senang, hasilnya akan lebih telaten terlihat,” ujarnya.
Ken juga menitipkan pesan khusus untuk para orang tua. Menurutnya, stilasi sangat cocok untuk anak-anak karena bersifat imajinatif.
“Stilasi itu penyederhanaan bentuk, jadi tidak dituntut sempurna. Orang tua jangan sampai memaksakan anak harus realistis seperti pelukis profesional. Dekoratif ini bisa jadi pintu masuk untuk memasuki dunia anak-anak yang penuh imajinasi,” tambahnya.
Elsa Rahma Aprilia, S.Pd., pembimbing ekstrakurikuler life skill, mengaku turut mendapat pengalaman berharga dari kegiatan ini.
“Saya tadi hanya mendokumentasikan, tapi ternyata juga belajar banyak. Saya rasa ini sangat keren dan berguna untuk dijadikan bahan pembelajaran di kelas, bukan hanya di kegiatan ekstrakurikuler,” tuturnya.
Ia berharap, kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang refleksi dari pembelajaran yang kadang dianggap jenuh oleh siswa.
“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menjadi stimulus bagi anak-anak untuk semangat berkarya,” pungkasnya. (Red)***





