Tasikmalaya – Ruangatas.com | Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Santana Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya sukses menggelar Workshop Mengajar Seni Musik bertajuk “Desain Model AREC (Auditory Repetition Exploration Creativity), Solusi Inovatif Stimulus Musikalitas Murid Sekolah Dasar” di Gedung Dewi Sartika Lantai 5, UPI Kampus Tasikmalaya, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh para kepala sekolah dan guru anggota KKG Gugus Santana tersebut menghadirkan narasumber Dr. Resa Respati, M.Pd., Dosen Pendidikan Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya. Workshop berlangsung interaktif dengan mengupas penerapan Model AREC sebagai pendekatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kreativitas, eksplorasi, serta kemampuan musikal peserta didik di sekolah dasar.
Ketua KKG Gugus Santana, Deny Kurniawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus KKG, khususnya Koordinator Kegiatan Angga Maulana, M.Pd., yang telah mempersiapkan kegiatan rutin KKG bulan Juli 2026 hingga berjalan dengan sukses.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus KKG Santana, terutama Pak Angga Maulana, M.Pd. selaku koordinator kegiatan. Workshop ini merupakan bagian dari program kerja KKG Santana Tahun 2026 yang disusun berdasarkan analisis kebutuhan sekolah-sekolah di lingkungan Gugus Santana, sehingga materi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan,” ujarnya.
Menurut Deny, para peserta mengikuti seluruh rangkaian workshop dengan penuh antusias. Materi yang disampaikan dinilai sangat relevan dalam menjawab tantangan pembelajaran seni musik di sekolah dasar sekaligus memberikan motivasi baru bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif, menyenangkan, dan mampu menstimulasi kemampuan musikal peserta didik.
“Kami merasa mendapatkan banyak wawasan baru. Model AREC menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan sesuai karakteristik sekolah masing-masing, sehingga pembelajaran seni musik tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mampu menumbuhkan kreativitas, apresiasi seni, serta kemampuan berekspresi murid,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan kompetensi guru merupakan proses yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, guru tidak cukup hanya menjalankan rutinitas mengajar, tetapi juga harus terus belajar agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi peserta didik.
“Jika hidup hanya sekadar hidup, ikan di lautan pun bisa hidup. Jika hidup hanya sekadar bekerja, kerbau pun mampu bekerja membajak sawah. Karena itu, sebagai guru kita harus hidup dan bekerja untuk menghadirkan manfaat serta nilai-nilai kebaikan bagi semesta,” ungkap Deny.
Sementara itu, narasumber workshop, Dr. Resa Respati, M.Pd., mengaku terkesan dengan semangat dan keterlibatan aktif para peserta selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, pelaksanaan workshop tersebut terasa bak gayung bersambut, karena materi yang dibahas selaras dengan kebutuhan guru sekolah dasar dalam mengembangkan pembelajaran seni musik yang lebih inovatif.
“Saya melihat antusiasme para guru sangat luar biasa. Diskusi berlangsung hidup, peserta aktif bertanya, dan mereka benar-benar menikmati setiap sesi. Ini seperti gayung bersambut, karena inovasi yang kami tawarkan melalui Model AREC ternyata menjadi jawaban atas kebutuhan guru di lapangan,” tuturnya.
Resa menjelaskan, pembelajaran seni musik di sekolah dasar seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan bernyanyi atau memainkan alat musik, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi kreativitas, mengembangkan kepekaan, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Model Auditory Repetition Exploration Creativity (AREC), lanjutnya, dirancang untuk membantu guru menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif, menyenangkan, dan berpusat pada murid.
“Yang paling membahagiakan bagi saya adalah melihat para guru pulang dengan membawa ide-ide baru. Mereka terlihat happy, mendapatkan inovasi yang dapat langsung diterapkan di kelas, dan semakin percaya diri dalam mengembangkan pembelajaran seni musik. Harapannya, semangat ini terus tumbuh sehingga pembelajaran seni musik di sekolah dasar menjadi semakin hidup, kreatif, dan mampu mengembangkan potensi musikal setiap anak,” jelasnya.
Melalui workshop tersebut, KKG Gugus Santana berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh para peserta dapat segera diimplementasikan di sekolah masing-masing. Selain itu, kegiatan pengembangan kompetensi guru seperti ini diharapkan terus berlanjut melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, Kelompok Kerja Guru, dan Dinas Pendidikan, sehingga kompetensi profesional guru terus meningkat dan berdampak positif terhadap kualitas pembelajaran seni musik di sekolah dasar.
Workshop ditutup dengan sesi diskusi, praktik pembelajaran, serta berbagi pengalaman antarpeserta sebagai bentuk penguatan implementasi Model AREC dalam menciptakan pembelajaran seni musik yang kreatif, inovatif, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik. (Red)***





