Ketika Profesor Mengajar di Sekolah Dasar: Telaah Praksis Deep Learning dalam Membebaskan Para Genius (Bagian 1)

Ilustrasi gambar aktivitas Jose Sergio Correa ketika belajar mengajar bersama anak-anak di lingkungan Matomoros, Mexico/Dok. Prompt Ai

Students in Matamoros, Mexico weren’t getting much out of school—until a radical new teaching method unlocked their potential. And then everything changed.

Itulah pernyataan Joshua Davis yang telah berkeliling dunia untuk liputan Wired—terhadap Sergio Juarez Correa, seorang guru yang mengajar di Sekolah Dasar José Urbina Lopez. Sekolah tersebut bersebelahan dengan tempat pembuangan sampah, tepatnya di seberang perbatasan antara Amerika Serikat dengan Meksiko.

Bacaan Lainnya

Latar Matomoros dalam Visual Radikal

Seorang anak kecil mendorong ibunya yang duduk di kursi roda. Kamera berganti, tiba-tiba seorang pemuda bergegas saat menggunakan motornya. Ia berada tepat di depan komplotan kartel narkoba. Tugasnya sebagai pembaca keadaan—aman untuk transaksi narkoba—agar pasukan polisi tidak memburu mereka. Pemuda itu kemudian memberi perintah kepada anak kecil dan ibunya untuk menyingkir ke pinggir jalan. Maksud si pemuda itu agar mereka bersembunyi di semak-semak. Begitu Christopher Zalla, sutradara film “Radical” membuka cerita visualnya.

Ia mengawalinya dengan memperkenalkan sebuah lingkungan gembong narkoba di Matamoros, Mexico, tahun 2011. Ironisnya, sebuah Sekolah Dasar José Urbina López berdiri di sana. Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata yang diadaptasi dari sebuah artikel “A Radical Way of Unleashing a Generation of Geniuses” yang ditulis oleh Joshua Davis.

Dalam artikelnya, sekolah yang melayani penduduk Matomoros ini merupakan kota berdebu dengan penduduk 489.000 jiwa. Lokasi tersebut merupakan titik api dalam perang melawan narkoba. Tidak asing apabila baku tembak kerap terjadi, bahkan bagi penduduk di sana, merupakan hal lumrah ketika menemukan mayat berserakan pada pagi hari.

Di tengah wilayah kartel narkoba itu, anak-anak dalam satu kelas mengalami hambatan belajar. Anak-anak ini berada dalam pengasuhan keluarga dengan kategori komunitas yang memprihatinkan. Zalla sebagai sutradara berusaha memvisualkan keadaan anak-anak ini yang hidup berada di bawah garis kemiskinan. Rumah-rumah mereka kumuh, berada di tempat tumpukan sampah, ada anak yang harus mengasuh dan membawa kedua adiknya ke sekolah, dan juga tokoh anak yang menjadi kurir narkoba.

Pada akhir tahun, mereka harus menghadapi ujian nasional. Chuco, sang kepala sekolah mendatangkan seorang guru bernama Sergio Juarez. Ia menggantikan seorang guru yang cuti karena melahirkan. Chuco berharap kepada Sergio agar ketertinggalan belajar anak-anak kelas 6 dapat mencapai target nasional. Berdasarkan laporan tes ENLACE, sekolah ini mendapatkan nilai ujian terburuk tahun sebelumnya. Sejak Chuco mengenalkan kepada guru-guru lain, mereka cukup pesimistik dan sinis atas keberadaannya.

Di sisi lain, setelah anak-anak lulus kelas 6, mereka lebih banyak putus sekolah daripada melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Sistem Mesin Pendidikan versus Seni Berpikir Kritis Berbasis Rasa Ingin Tahu

Bel masuk berbunyi. Sebelum anak-anak beranjak ke kelas, mereka harus berbaris dengan batas garis polisi. Mereka mendengarkan ceramah Chuco yang memberi penegasan kepada mereka, “Ketenangan adalah dasar ketaatan, ketaatan adalah dasar dari kedisiplinan, dan disiplin adalah dasar dari pembelajaran. Jadi, mari kita renungkan kembali segala peraturan kita!”

Sistemik sekali, bukan(?).

Sebagaimana Davis mengutip William T. Harris—komisioner pendidikan AS—merayakan fakta bahwa sekolah-sekolah AS telah mengembangkan ‘penampilan seperti mesin’, yang mengajarkan siswa ‘untuk tertib, tetap pada tempatnya, dan tidak menghalangi orang lain’ pada tahun 1899.

Untuk pertama kalinya, Sergio mengajar di kelas 6 dengan memosisikan kursi dan meja serba-terbalik. Ia mengajak anak-anak bermain imajinasi di dalam kelas. Kelas ibarat lautan di pagi itu. Mereka harus menemukan sekoci agar 23 anak dari mereka bisa selamat di tengah lautan. Anak-anak pun merasa heran karena Sergio berpura-pura tenggelam di lautan itu (kelas). Yang awalnya anak-anak merasa heran, kemudian mereka mulai terpancing untuk merespons. Tertawa meruai.

Chuco berjalan melewati kelas-kelas, ia terkejut dengan keadaan kelas 6 di bawah pengasuhan Sergio. Saat ia masuk kelas, hendak mengonfirmasi pemelajaran, “Ada apa ini?”

Sergio langsung memberi aba-aba kepada anak-anak, “Ada satu penumpang yang tertinggal. Segera selamatkan dia!” titahnya sambil menunjuk Chuco—sang kepala sekolah.

“Dia bakal tenggelamkan sekocinya, karena berat badannya,” duga seorang anak sambil menenteng Chuco.

Lalu, Sergio menyela dengan pertanyaan, “Mengapa dia bisa menenggelamkan sekoci? Apa yang membuat sekoci mengapung? Atau, apa yang menentukan daya muat?”

Ini pemantik yang menarik bagi Sergio untuk masuk pada konsep pembelajarannya.

Anak-anak tidak bisa menjawabnya. Begitu juga saat Sergio bertanya kepada Chuco, si kepala sekolah yang sambil memegang roti di tangan kiri dan kopi di tangan kanannya. Sergio pun memberi tawaran kepada anak-anak, bahwa untuk menemukan jawabannya bisa memanfaatkan internet juga perpustakaan di sekolah. Namun sayang, Sergio tidak mendapati satu pun perangkat elektronik itu di lab komputer. Saat beranjak ke perpustakaan, ia sempat dilarang karena belum membuat jadwal berkunjung ke perpustakaan. Namun, petugas perpustakaan tidak berdaya untuk membiarkan Sergio dengan 23 muridnya untuk mencari literatur. Mereka hanya mendapati buku ensiklopedia yang sudah berusia 30 tahun.

Sergio sebenarnya tengah memberikan pembelajaran hukum Archimedes. Dengan praktik-praktik yang terpancaindrai oleh anak-anak, ternyata mereka bukan tidak berpikir. Persoalan realitas di kelas, kerap kali membuat anak-anak takut untuk mengungkapkan pendapat. Sergio bisa memberi waktu agar anak-anak untuk berani mengungkapkan argumentasinya. Untuk membantu anak-anak paham dengan materi, terkadang Sergio membiarkan anak-anak berpikir bebas. Rupanya, film ini juga mengambil spirit Pendidikan yang Membebaskan ala Paulo Freire.

Faktanya, seorang guru yang menghargai cara berpikir anak-anak akan lebih mampu mengasah daya pikir dan pemahaman mereka. Bukan sekadar menghafal fakta dan realitas sebagaimana sistem pendidikan yang kerap kali menggunakan metode tersebut. Alih-alih demi mencapai target asesmen semacam ujian di tengah dan akhir semester, anak-anak kerap kali berjarak dengan realitas hidup mereka sendiri. Mereka kerap kali kesulitan memecahkan masalah dalam kenyataan.

Pemecahan Masalah Tanpa Instruksi dengan Metode Sokrates

Sebuah studi serupa di UC Berkeley, sebagaimana catatan Davis telah menunjukkan, “Anak-anak yang tidak diberi instruksi jauh lebih mungkin menemukan solusi baru untuk suatu masalah.”.

Chuco kian bingung dengan tingkah dan metode mengajar yang dipraktikkan Sergio, guru barunya itu. Anak-anak tidak seperti belajar di dalam kelas. Mereka seperti bermain, bergerak, dan mendiskusikan hal-hal yang dianggap tabu oleh sistem pendidikan. Misalnya, mereka terlihat melakukan diskusi, demonstrasi, dan pembelajaran seolah tidak relevan dengan capaian pembelajaran dan standar soal untuk ujian nasional.

Sergio kerap melakukan diskusi dan aksi bersama anak-anak. Tidak juga memberi contoh soal pada papan tulis. Ia justru menggunakan media di sekitar sekolah. Di sisi lain, ketika keinginannya untuk menggunakan ruang komputer dan akses internet tidak mendapatkan fasilitas dari sekolah. Meskipun ruangannya ada, tetapi perangkat komputernya tidak. Kelak, Sergio baru tahu bahwa sebenarnya komputer bantuan sudah dikirim ke sekolah tersebut delapan bulan sebelumnya. Ada sesuatu yang tidak beres. Apa itu?

Di seluruh dunia, secuil pengetahuan mengenai pendidikan sebenarnya, yaitu guru tidak membawa materi ke dalam kelas, tetapi menerima gagasan dari anak-anak yang kemudian dijadikan pembahasan lanjutan antargagasan anak lainnya. Ini baru pendidikan. Adapun guru-guru mengatakan berhasil jika capaian pembelajaran sesuai dengan kurikulum dan mata pelajaran yang tidak pernah sesuai atau merangkul apa yang disebut dengan inteligensi anak-anak di setiap sekolah.

Davis mencatat bahwa para ahli teori mulai dari Johann Heinrich Pestalozzi hingga Jean Piaget dan Maria Montessori pun menganggap siswa harus belajar dengan bermain dan mengikuti rasa ingin tahu mereka. Ia juga melanjutkan bahwa metode Sokrates, seorang filsuf yang lahir 470 SM di Athena—menjadi guru berambut panjang yang mendengar dan membiarkan murid-muridnya untuk mengambil keputusan sendiri. Sebuah pendekatan yang penuh pertanyaan dan penyelidikan dan bertahan hingga saat ini.

Bersambung.

Penulis: Vudu Abdul Rahman

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *