Wamendikdasmen Resmikan Program Revitalisasi Sekolah di Kota Tasikmalaya

Tasikmalaya — Ruangatas.com | Upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum dan metode belajar, tetapi juga sangat ditentukan oleh kondisi ruang belajar tempat peserta didik beraktivitas setiap hari. Hal ini kembali ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Atip Latiful Hayat, saat kunjungan kerjanya di Kota Tasikmalaya, Minggu (11/1/2026).

Menurut Prof. Atip, ruang kelas yang aman, nyaman, dan layak merupakan prasyarat penting terciptanya proses pembelajaran yang efektif. Lingkungan fisik sekolah yang baik diyakini mampu mendorong tumbuhnya konsentrasi, kreativitas, serta semangat belajar siswa.

Bacaan Lainnya

“Ketika anak belajar di ruang yang aman dan representatif, maka potensi mereka berkembang lebih optimal. Ini bukan sekadar soal bangunan, tetapi soal masa depan,” ujarnya.

Sebagai wujud komitmen pemerintah pusat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengalokasikan anggaran revitalisasi sarana pendidikan di berbagai daerah, termasuk Kota Tasikmalaya. Pada tahun ini, sebanyak 25 satuan pendidikan dari jenjang TK hingga SMA sederajat menerima dukungan APBN untuk perbaikan ruang kelas, ruang guru, serta fasilitas sanitasi.

Program tersebut menjadi bagian dari agenda nasional pembenahan sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat. Prof. Atip menilai, revitalisasi sekolah adalah investasi jangka panjang yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh generasi penerus bangsa.

Tak berhenti di Tasikmalaya, pada tahun 2026 mendatang Kemendikdasmen menargetkan revitalisasi lebih dari 11 ribu ruang kelas di seluruh Indonesia dengan dukungan anggaran nasional yang signifikan. Langkah ini diharapkan mampu memperkecil kesenjangan kualitas fasilitas pendidikan antarwilayah.

Namun demikian, Prof. Atip mengingatkan bahwa pembenahan infrastruktur harus berjalan seiring dengan penguatan kualitas tenaga pendidik. Guru tetap menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan.

“Fasilitas yang baik harus ditopang guru yang terus belajar dan berkembang. Karena itu, penguatan kompetensi guru melalui pelatihan dan pengembangan profesional tetap menjadi prioritas,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung praktik di negara-negara maju yang menempatkan fasilitas pendidikan sebagai kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar. Menurutnya, Indonesia perlu bergerak ke arah yang sama agar tidak meninggalkan anak-anaknya dalam persaingan global.

Dengan sinergi antara infrastruktur pendidikan yang layak dan guru yang profesional, Prof. Atip optimistis kualitas pendidikan nasional akan terus mengalami kemajuan yang signifikan, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi peserta didik untuk berkembang dan berprestasi. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *