Tasikmalaya – Ruangatas.com | Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya berkolaborasi dengan Komunitas Cermin Tasikmalaya menggelar Sarasehan Budaya dan Pendidikan sebagai upaya menggali serta merumuskan identitas budaya lokal Kota Tasikmalaya. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Buleud Galery, Komunitas Cermin Tasikmalaya, Rabu (17/12/2025).
Sarasehan ini bertujuan untuk menggali dan mengidentifikasi budaya asli Kota Tasikmalaya yang akan menjadi dasar pengembangan kurikulum muatan lokal pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Dr. H. Rojab Riswan Taufik, S.Sos., M.Si, dan dihadiri Kabid Disporabudpar Kota Tasikmalaya, perwakilan guru, budayawan, pembina Komunitas Cermin, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai unsur kebudayaan dan pendidikan.

Mencari Identitas Budaya Kota Tasikmalaya
Dalam sesi diskusi, Penulis dan Budayawan Tasikmalaya, Nunu Nazarudin Azhar menyampaikan bahwa hingga saat ini identitas budaya Kota Tasikmalaya masih dalam proses pencarian.
“Sebenarnya budaya Kota Tasikmalaya belum sepenuhnya jelas, karena budaya yang berkembang saat ini banyak merupakan serapan atau pengaruh dari luar. Seperti batik Tasikmalaya, yang menjadi kekhasannya bukan batiknya, melainkan motifnya,” ungkap Nunu.
Ia menambahkan bahwa membangun kekhasan budaya membutuhkan kesadaran dan komitmen jangka panjang.
“Kalau ingin memiliki budaya atau kesenian khas, maka harus kita mulai dari sekarang. Karena suatu saat nanti, kitalah yang akan menjadi karuhun atau sesepuh bagi anak-cucu kita ke depan,” tegasnya.
Budaya sebagai Warisan Nilai Leluhur
Pembina Komunitas Cermin, Ashmansyah Timutiah, menekankan bahwa kebudayaan sejatinya merupakan kumpulan nilai kebaikan yang diwariskan oleh leluhur dan harus dijaga keberlanjutannya.
“Kota Tasikmalaya saat ini sedang mencari kebudayaannya. Kebudayaan itu adalah kebaikan-kebaikan dari leluhur yang perlu kita rawat. Setelah kerusuhan tahun 1996, terjadi perubahan sosial yang cukup besar, termasuk masuknya berbagai pengaruh luar, seperti payung geulis, baju koko, dan batik,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa menjadi manusia berbudaya berarti mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan.
“Setelah budaya ditanamkan, tugas kita adalah merawatnya. Tantangannya adalah bagaimana dunia pendidikan mampu membentuk karakter peserta didik yang mencerminkan identitas masyarakat Sunda,” ujarnya.
Ashmansyah juga menilai Tasikmalaya layak disebut sebagai kota pendidikan.
“Sejak masa Keresian Galunggung, wilayah ini memiliki orientasi keilmuan. Oleh karena itu, pendidikan berbasis budaya harus menjadi prioritas kebijakan,” tambahnya.
Potensi Cagar Budaya sebagai Sumber Pembelajaran
Sementara itu, Agus Wira Budiman, pemegang Sertifikat Ahli Cagar Budaya Kota Tasikmalaya, menyoroti besarnya potensi cagar budaya sebagai sumber pembelajaran dalam kurikulum muatan lokal.
Menurutnya, Kota Tasikmalaya memiliki sejumlah situs bersejarah yang relevan untuk pendidikan, salah satunya Situs Lingga Yoni.
“Salah satu potensi cagar budaya yang dapat dimanfaatkan dalam kurikulum pendidikan lokal adalah Situs Lingga Yoni. Situs ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga sumber pembelajaran tentang peradaban dan nilai-nilai budaya masa lalu,” ujar Agus.
Ia juga mengajak para pendidik untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian.
“Bapak dan Ibu, sebelum mengajak peserta didik belajar ke Situs Lingga Yoni, alangkah baiknya para guru terlebih dahulu hadir, minimal untuk sekadar membersihkan dan merawat kabuyutan. Dari situlah keteladanan pendidikan dimulai,” tambahnya.

Catatan Akademisi
Dari perspektif akademik, Prof. Dr. Yayat Sudaryat, M.Hum, memberikan catatan kritis terhadap upaya perumusan budaya lokal sebagai mata pelajaran.
“Motivasi untuk memelihara budaya Sunda dan mewariskannya melalui pendidikan itu sangat baik. Namun, secara akademik perlu dikaji kembali apakah budaya lokal Kota Tasikmalaya sudah memiliki komponen yang cukup kuat untuk dirumuskan sebagai mata pelajaran mandiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan kajian terhadap sejumlah komponen kebudayaan, masih terdapat kekosongan yang menyulitkan jika dikembangkan secara parsial.
“Jika dititipkan dalam pembelajaran Bahasa Sunda, ruangnya juga terbatas, mungkin hanya pada tradisi, kampung adat, kawih, dan kakawihan. Karena itu, pendekatannya harus selektif dan kontekstual,” tambahnya.
Arah Kebijakan Kurikulum Lokal
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Dr. H. Rojab Riswan Taufik, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa sarasehan ini menjadi bagian penting dari proses penyusunan kebijakan kurikulum muatan lokal.
“Sarasehan pengembangan budaya lokal ini menjadi atensi kami ketika berbicara tentang pengembangan kurikulum. Saat ini kami sedang menghimpun dan menyaring aspirasi agar tim penyusun kurikulum nantinya tidak melenceng dari tujuan dan kebutuhan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hasil sarasehan akan ditindaklanjuti secara internal oleh tim pengembang kurikulum.
“Narasumber yang hadir merupakan para penggiat dan pemerhati kebudayaan, serta akademisi dari UPI Bandung. Seluruh masukan ini akan menjadi bahan penting dalam penyusunan kurikulum muatan lokal Kota Tasikmalaya,” katanya.
Lebih lanjut, Dr. Rojab menegaskan bahwa pengembangan kurikulum lokal berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
“Sebagai institusi yang bergerak di bidang atikan, kami berharap peserta didik memiliki dedikasi dan ciri khas sebagai anak-anak Kota Tasikmalaya. Kurikulum ini harus mudah diterapkan oleh guru, dipahami oleh siswa, tanpa mengabaikan perkembangan zaman,” pungkasnya. (Red)***





