Ratusan Ojol Gelar Aksi Damai di Tasikmalaya, 25 Remaja Diduga Provokator Diamankan Polisi

Tasikmalaya – Ruangatas.com | Ratusan pengemudi ojek online (ojol) dari wilayah Priangan Timur menggelar aksi damai di Mapolres Tasikmalaya Kota, Senin (1/9/2025). Aksi berlangsung aman, tertib, dan tanpa insiden berarti. Usai menyuarakan aspirasi, massa pun membubarkan diri melalui jalur sekitar Gedung DPRD Kota Tasikmalaya.

Namun, situasi sempat diwarnai ketegangan ketika sejumlah remaja yang bukan bagian dari aksi diduga mencoba menyusup untuk memicu keributan. Salah satunya dengan aksi perovokatif yang berhasil digagalkan aparat di lapangan.

Bacaan Lainnya

Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Moh. Faruk, S.H., S.I.K., M.Si., turun langsung memimpin jalannya pengamanan sekaligus penyisiran di sepanjang jalur aksi hingga area sekitar DPRD. Dari langkah cepat tersebut, polisi mengamankan 25 remaja yang terdiri dari 7 orang di bawah umur dan 18 orang dewasa, mereka diduga hendak memanfaatkan situasi untuk membuat kegaduhan.

“Mereka bukan bagian dari massa ojol, tapi diduga mencoba membuat keributan. Syukurlah berhasil kami cegah,” ungkap Kapolres.

AKBP Moh. Faruk menegaskan, Polri tetap menghormati setiap penyampaian aspirasi masyarakat sepanjang dilakukan secara damai dan sesuai aturan.

“Namun, jika ada pihak-pihak yang mencoba mengganggu ketertiban, tentu akan kami tindak tegas,” tegasnya.

Ke-25 remaja tersebut langsung dibawa ke Mapolres Tasikmalaya Kota untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Polisi pun melakukan pemanggilan terhadap orang tua mereka sebagai bagian dari proses pemeriksaan.

Saat mendatangi Mapolres, salah satu orang tua tampak menahan emosi sekaligus menyatakan rasa kekecewaannya dengan nasihat yang menohok dengan tutur bahasa Sunda.

“Lamun anjeun bener-bener rek ibadah sok, sakola rek kamana sok, melaan kolotmah, ibaratna suku dijieun sirah, sirah dijieun suku, melaan nu jadi anak téh. Ayeuna ujug-ujug ngucewakeun, sok kumaha nyerina hate kolot?”

Yang artinya, “Kalau kamu benar-benar mau ibadah silakan, sekolah dimana pun silakan, orang tua sudah berjuang habis-habisan, ibarat kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki demi anak. Tapi sekarang malah mengecewakan, bagaimana sakitnya hati orang tua?” tandasnya.

Momen penuh haru ini menjadi ruang reflektif bahwa kenakalan remaja tak hanya berurusan dengan hukum, tetapi juga melukai hati orang tua yang sudah berjuang demi masa depan mereka. ***

Pos terkait