Tasikmalaya — Ruangatas.com | Kritik terhadap pola komunikasi kepemimpinan di Kota Tasikmalaya kembali mencuat. Pegiat seni teater Orock Kappas, menilai lemahnya komunikasi publik telah memicu ketidakpuasan di tengah masyarakat.
Menurutnya, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, respons publik terhadap kinerja elit politik di Kota Tasikmalaya terus berkembang, terutama di media sosial dan sejumlah platform digital. Ia melihat adanya gejala psikologis berupa kegelisahan publik yang semakin meluas akibat minimnya komunikasi yang jelas dan terarah dari pemimpin daerah.
Orock Kappas mengibaratkan pemimpin sebagai nakhoda yang seharusnya mampu memberikan rasa aman dan kepastian bagi masyarakat. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu spekulasi, keresahan, hingga reaksi berlebihan di tengah publik.
“Ketika kegelisahan masyarakat tidak segera dijawab dengan komunikasi yang jelas, maka akan muncul berbagai tafsir yang liar. Ini berbahaya karena bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk membentuk opini negatif,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kepekaan pemimpin dalam membaca situasi sosial yang berkembang. Menurutnya, komunikasi bukan sekadar penyampaian informasi, tetapi menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan publik.
Dalam pandangannya, konsep komunikasi kepemimpinan dapat disederhanakan dalam tiga fungsi utama, yakni mempertahankan kepercayaan, mendeskripsikan program, dan memandu masyarakat.
“Formasi komunikasi sederhana yang disampaikan Garin Nugroho adalah 30%, 30%, dan 40%. Saya menyederhanakannya menjadi konsep 3M: mempertahankan, mendeskripsikan, dan memandu,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa di era digital, media sosial dan media online memiliki peran ganda. Selain sebagai sarana komunikasi dan diplomasi, media juga dapat menjadi ruang penilaian publik yang berdampak besar terhadap citra pemimpin.
“Media hari ini bukan hanya jembatan komunikasi, tapi juga bisa menjadi ruang pengadilan publik, bahkan pembentuk citra,” katanya.
Orock Kappas pun mendorong para pemimpin di Kota Tasikmalaya untuk segera melakukan evaluasi terhadap pola komunikasi yang selama ini berjalan. Ia menilai, kehadiran pemimpin di tengah masyarakat tidak cukup hanya melalui program, tetapi juga melalui komunikasi yang terbuka, responsif, dan membangun kepercayaan.
Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan kembali nilai-nilai sederhana yang diwariskan dalam budaya lokal, bahwa tindakan nyata harus sejalan dengan komunikasi yang jujur dan terbuka.
“Prak pék pok, prak gawé pék béré pok ngomong. Bekerja itu penting, tapi komunikasi juga tidak kalah penting,” pungkasnya. (***)
