Tasikmalaya — Ruangatas.com | Upaya menjaga denyut kesenian tradisional di Kota Tasikmalaya kembali digaungkan melalui gelaran Gentra Loka Vol. 4 yang digagas Komite Budaya DKKKT. Pada edisi kali ini, panggung budaya tersebut menghadirkan pertunjukan spesial bertajuk Show Story Karinding Sadulur.
Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (23/5/2026) di Kopi Siloka 2, Jalan Brigjend Wasita Kusumah, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Ketua Komite Budaya DKKKT, Cevi Whiesa, mengatakan bahwa Gentra Loka Vol. 4 sengaja menghadirkan ruang khusus bagi seni karinding sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensi komunitas Karinding Sadulur dalam melestarikan budaya Sunda selama bertahun-tahun.
“Karinding Sadulur layak mendapatkan panggung eksklusif. Mereka berhasil meregenerasi lahirnya banyak kelompok karinding di Tasikmalaya dan itu bukan proses yang mudah,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali seni karinding kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih dekat dengan ruang-ruang kreatif anak muda.
“Kami ingin membawa karinding ke ruang yang lebih akrab dengan generasi muda, agar mereka tahu bahwa Tasikmalaya memiliki warisan seni tradisional yang luar biasa,” katanya.
Tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik tradisional, acara ini juga akan dimeriahkan oleh kehadiran musisi sekaligus budayawan Sunda Man Jasad yang akan turut membersamai penampilan Karinding Sadulur.
Selain pertunjukan utama, Gentra Loka Vol. 4 juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung seperti workshop waditra karinding, gunem catur, pemutaran film dokumenter, hingga coaching clinic yang terbuka secara gratis untuk masyarakat umum.
Cevi menambahkan, pihaknya terus berupaya menghadirkan ruang kesenian yang lebih inklusif dan tidak hanya berhenti sebagai tontonan semata.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dan merasakan langsung proses kesenian itu,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Gentra Loka Vol. 4, Mukshy Arafah Sugandi, menyebut kegiatan tersebut juga melibatkan para mahasiswa sebagai volunteer dan panitia pelaksana.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting agar kegiatan seni dan budaya dapat berjalan beriringan dengan proses edukasi serta kolaborasi kreatif.
“Para volunteer kami libatkan sejak tahap persiapan agar mereka memiliki pengalaman langsung bagaimana mengelola sebuah event seni dan budaya,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat, khususnya anak muda yang tertarik pada seni tradisional, untuk ikut berpartisipasi dalam workshop karinding yang disediakan secara terbuka dan gratis. ***
