Tasikmalaya – Ruangatas.com | Hampir tiga dekade perjalanan, Teater Bolon tetap eksis sebagai salah satu kelompok teater legendaris di Kota Tasikmalaya. Pada Kamis malam (28/8/2025), komunitas seni ini merayakan ulang tahun ke-29 di Farhatul Muflihin, Jalan Situ Gede No. 1, Sukajaya Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi. Perayaan berlangsung meriah dan penuh keakraban, dengan ratusan pelaku seni serta warga yang ikut hadir menyemarakkan suasana.
Sejumlah komunitas ikut memeriahkan panggung, di antaranya Katara Badranaya, Teater Elips, Sanggar Bakekok, Ngabedus, Geuleuyeung 9, Kopaster, Kirana Sarimbit, Mayang Binangkit, Saung Badawi, Kalimusadla, Sundawani, Sanggar Sastra Tasik, Ichikibung, Teater Windu, Samping Teater, hingga Sabda Senja. Hadir pula Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Habib Qosim Nurwahab, yang memberikan apresiasi atas kiprah Teater Bolon dalam menjaga ruh kesenian di tengah masyarakat.
Selain pentas seni, perayaan ini juga menghadirkan sesi Ngabedus (Ngawangkong Ngabedah Diskusi) dengan moderator Abah Irwan beserta tiga narasumber: KH. Dr. Fauz Noor, M.Ag, praktisi media Duddy RS, serta seniman dan budayawan Ashmansyah Timutiah (Acong).
KH. Fauz Noor dalam paparannya menyinggung filosofi ngarumat lengkah yang berkaitan dengan tradisi Sunda dan konsep kapitayan.
“Orang Sunda punya tradisi sunda wiwitan sebagai counter dari perkembangan agama pada masanya. Sebelum Wiwitan, kita juga punya tradisi dari kapitayan, ada lima konsep: tatakrama, tatasalira, tatanagara, tatabuana, dan tatasurya. Membahas segala konsep ketuhanan, manusia, dan alam semesta,” terangnya.
Menurutnya, “Ngarumat lengkah adalah memelihara, merawat, dan mensucikan jiwa, atau nurani, Mudah-mudahan adanya acara ini kita kembali pada kesucian,” ungkap KH. Fauz Noor.
Sementara itu, praktisi media, Duddy RS menautkan gagasan tersebut dengan filosofi pancaniti dalam perjalanan Teater Bolon.
“Gerak Teater Bolon dari pangarti menjadi surti, lalu bukti, berbakti, hingga mencapai sejati. Itu kolektivitas yang konsisten menjaga kiprah seni hingga kini,” jelasnya.
Seniman sekaligus budayawan, Ashmansyah Timutiah menegaskan pentingnya kesenian sebagai ruang silaturahmi dan kontemplasi.
“Seni itu tontonan, tuntunan, dan tuntutan. Di era yang serba chaos, kita butuh ruang pertemuan nyata untuk menyalurkan ekspresi. Jangan tergerus dunia maya. Teater Bolon memberi contoh bahwa konsistensi berkesenian adalah kerja berat yang layak diapresiasi,” tutur Acong.
Perayaan ke-29 ini bukan sekadar peringatan usia, melainkan juga refleksi perjalanan panjang Teater Bolon dalam menjaga nilai kesenian, kebersamaan, dan spiritualitas lokal.
Dengan mengusung spirit ngarumat lengkah, Teater Bolon menegaskan komitmennya melanjutkan peran sebagai wadah ekspresi dan pembelajaran budaya di Tasikmalaya. (Red)***
