Tasikmalaya – Ruangatas.com | “Terima Kasih untuk Kedai Pemuda Penimbun Harta,” tulis Bubuh, sang narasumber pada unggahan Instagram setelah acara Jumat malam itu (4/7/2025).
Bagi pemuda pemudi dari Desa Mekarwangi, Kedai Pemuda Penimbun Harta bukan sekadar tempat ngopi dan ngobrol. Ia adalah Egghead untuk Desa Mekarwangi sebagai ruang percobaan, dan rumah bagi keberanian muda yang tumbuh dari cerita-cerita lama.
Di tempat ini, mereka, pemuda pemudi Mekarwangi belajar menjaga poneglyph suara para sepuh. Mereka dengarkan petuah-petuah sepuh di desa. Mereka susun kembali serpihan cerita, untuk menemukan One Piece mereka sendiri, yaitu ketenangan jiwa yang mutmainnah saat kampung halaman bisa menjadi rumah yang benar-benar hidup.
Mereka tidak ingin sejarah hanya jadi nostalgia. Mereka ingin ia menjadi bahan bakar. Mereka ingin ia dibicarakan, ditulis ulang, dan dibagikan agar tak satu pun jejak kearifan lokal terhapus oleh waktu.
Jika Ohara dibakar agar rakyat tetap diam, maka mereka justru membangun perpustakaan rakyat mereka sendiri dengan rak dari percakapan, halaman-halaman yang ditulis dari obrolan warung, rekaman para sepuh, dan mural di dinding kampung.
Dan seperti Drums of Liberation yang menghidupkan Nika, mereka percaya bahwa suara, tawa, dan mimpi yang dibagikan adalah bentuk paling murni dari pembebasan.
Mereka tidak takut menjadi “gila” seperti Vegapunk, karena mereka tahu, dari “kegilaan” itulah lahir peradaban baru. Serta, mereka menyayangi orangtua di sana. Mereka siap menjadi telinga untuk orangtua mereka yang mulai menua.
Mereka bersyukur. Karena lewat kedai ini, mereka tahu bahwa warisan tak harus dibingkai, ia bisa hidup di antara kopi, diskusi, dan keberanian untuk bersilaturahmi.
Ohara tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah bentuk. Dan kini, ia hidup kembali di desa mereka. Dibantu oleh wujud Egghead kecil bernama Kedai Pemuda Penimbun Harta.
Kedatangan anak-anak muda Desa Mekarwangi, Kabupaten Tasikmalaya semacam muara di kedai Pemuda Penimbun Harta. Beberapa di antara mereka pun merasakan atmosfer berbeda tentang lingkar yang bertenaga.
Indri Mustari, kembang Desa Mekarwangi memberikan testimoni terhadap acara ngopi yang sangat seru baginya. Ia juga merasa mendapatkan tambahan ilmu baru serta teman baru. Katanya, ia ingin Desa Mekarwangi jadi desa yang rukun dan harmonis serta banyak program-program yang membangun pemuda pemudi agar lebih produktif dan berani speak up dalam hal positif.
Sementara itu, Silva Triwulan menganggap suasana di kedai Pemuda Penimbun Harta itu tenang. Tempatnya juga nyaman dan adem, pisang kejunya enak, manisnya pas, tapi pisangnya agak keras, kalau tahu gejrotnya kurang gurih dan kebanyakan bawang putih. Sayangnya nggak ada minuman lain selain kopi. Soalnya, ia nggak suka kopi sambil terkekeh.
Ia memaksakan diri mencoba kopinya sangat pahit dan kurang susu katanya. Tapi tetap bagus karena tempatnya nyaman dan adem, dengan nada minta maaf ia sedikit mengkritik. Semoga semua programnya terus lebih baik, agar Desa Mekarwangi semakin sukses dan maju.
Ada cerita menarik lainnya dari Rahmi. Awalnya, ia melihat pamflet yang dibagikan oleh seorang Pemuda Penimbun Arsip (a.k.a.A Bubuh). Karena belum pernah ikut kegiatan semacam itu, ia jadi penasaran sebenarnya, “Apa sih yang dibahas di acara seperti ini?” tuturnya.
Sebelumnya, ia sering maju mundur untuk ikut kegiatan serupa. Bukan karena tidak tertarik, tapi karena merasa minat bacanya belum cukup kuat. Ia pikir acara seperti ini pasti butuh membaca buku berat terlebih dahulu, dan itu membuat dirinya untuk melangkah mundur perlahan.
Tapi ternyata, kegiatan ngopi kemarin beda, akunya. Di Kedai Pemuda Penimbun Harta, mereka ngobrol santai tentang sejarah Desa Mekarwangi. Tidak ada tekanan harus membaca dulu, tidak ada tuntutan harus tahu semuanya. Justru suasananya terbuka, ramah, dan bikin betah.
Buatnya, ini pengalaman baru yang menyenangkan karena dimulai dari rasa penasaran. Ujungnya berubah jadi pengalaman yang bermakna. Ia ingin Desa Mekarwangi, masyarakatnya mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak, akses kesehatan yang mudah. Selain itu, ia ingin mendapatkan ruang untuk bertumbuh.
Satu serpihan catatan telah mengumpulkan anak-anak muda Desa Mekarwangi berada di tengah kota. Untuk merawat ingatan lama dan menggalinya dari cerita-cerita orangtua. (Bubuh)***
